Tantangan Besar Keluarga Indonesia
- 29 Jun 2025 09:48 WIB
- Bengkulu
KBRN, Bengkulu: Saat ini keluarga Indonesia dihadapkan pada sejumlah tantangan besar. Hal ini diungkapkan Staf Ahli Bidang Hukum Kelembagaan dan Reformasi Birokrasi Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Viktor Hasiholan Siburian pada puncak peringatan Harganas ke-32 di Alun-alun Kota Depok, kawasan Grand Depok City, Kota Depok, pada Rabu (25/6/2025) lalu.
Dikutip dari laman wartakencana.id, pada Minggu (29/6/2025), Viktor mengingatkan tantangan besar yang pertama, masih tingginya angka stunting di Indonesia. Hal ini menjadi tantangan tersendiri untuk mewujudkan generasi yang sehat, cerdas dan kuat.
Kedua, belum optimalnya pengetahuan orang tua mengenai pola pengasuhan serta pembinaan tumbuh kembang anak. Di tengah perubahan sosial dan ekonomi yang semakin dinamis, pola pengasuhan anak memerlukan penyesuaian terhadap realitas kehidupan keluarga masa kini.
Ketiga, rendahnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak turut menjadi kendala di dalam rumah tangga atau keluarga. Fenomena ketidakhadiran figur ayah dalam kehidupan anak, baik secara fisik, emosional, maupun psikologis dikenal dengan istilah fatherless, dari data Unicef pada 2021 menunjukkan bahwa 20,9 persen anak-anak di Indonesia kehilangan kehadiran ayah, baik karena disebabkan perceraian, kematian atau pekerjaan ayah yang jauh dari keluarga.
Keempat, lemah kualitas hidup lansia dan keterbatasan kemampuan keluarga dalam memberikan pendampingan serta perawatan jangka panjang bagi orang tua. Untuk menjawaban tantangan tersebut, Kemendukbangga/BKKBN menyusun quick wins yang terdiri dari lima program.
Pertama, Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) menjadi program nasional yang diinisiasi oleh Kementerian sebagai upaya gotong-royong lintas sektoral untuk mempercepat penurunan dan pencegahan stunting di Indonesia. Viktor mengungkapkan, penyelesaian masalah stunting tidak bisa diserahkan hanya satu kepada satu institusi baik itu di pemerintah pusat maupun di tingkat provinsi maupun kabupaten kota.
Kedua, Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA) menjadikan program inovasi strategis untuk menciptakan kemandirian keluarga dengan menyediakan tempat penitipan anak (TPA) yang berkualitas dan berkelanjutan. Melalui quick wins ini diharapkan semua warga negara dalam siap produksi kerja, itu dapat bekerja termasuk para wanita dan perempuan yang mempunyai anak.
Ketiga, Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) muncul sebagai respons terhadap permasalahan fatherless yang mengkhawatirkan di Indonesia. Melalui program ini, Kemendukbangga mendorong keterlibatan aktif ayah dan calon ayah dalam pengasuhan anak serta pendampingan remaja yang akan memasuki usia pranikah.
Keempat, Lansia Berdaya (SIDAYA) merupakan integrasi kebijakan layanan terhadap kelompok lansia. Melalui Sidaya, Kemendukbangga berharap ada pendampingan bagi keluarga lansia dan lansia itu sendiri melalui kepedulian dan peran serta dari multisektor.
Kelima, Super Aplikasi Keluarga Indonesia mencoba menyajikan data secara terintegrasi berdasarkan kecerdasan buatan. Melalui Super App ini akan memudahkan akan masyarakat mengakses layanan seputar kependudukan dan keluarga.
Viktor berpesan kepada seluruh unsur untuk secara pentahelix meningkatkan partisipasi masyarakat dan stakeholders dalam menjadi orang tua asuh untuk penurunan dan pencegahan stunting. Ia juga mengajak seluruh unsur untuk meningkatkan partisipasi perempuan dalam angkatan kerja dengan tetap memberikan pengasuhan yang layak bagi anak.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....