Maladative Daydreaming, Melamun yang Berlebihan

  • 31 Mei 2024 08:54 WIB
  •  Bengkulu

KBRN, Bengkulu : Anda tentu pernah melihat orang yang sering melamun? Atau bahkan mungkin Anda sendiri yang sering melamun? Melamun adalah sebuah keadaan disaat kita termenung dan pikiran melayang ke mana-mana.

Pada dasarnya, melamun adalah suatu hal yang wajar ketika dilakukan sesekali dan dalam waktu yang singkat. Namun, bila melamun terlalu sering dilakukan, hingga mengghabiskan waktu berjam-jam, maka perlu diwaspadai kondisi tersebut lebih mengarah kepada maladaptive daydreaming.

Maladaptive daydreaming berbeda dengan melamun biasa. Kondisi ini cenderung lebih sulit atau akan sulit untuk dihentikan, karena maladaptive daydreaming memiliki alur cerita yang kompleks dan lebih detail. Bahkan ketika tidak melamun, seseorang akan tetap memiliki keinginan yang kuat untuk melamun.

Dilaman halodoc.com disebutkan beberapa perbedaan antara melamun biasa dengan maladaptive daydreaming. Perbedaan tersebut diantaranya, intensitas lamunan, kompleksitas lamunan, durasi lamunan yang lama, sengaja melamun dan terisolasi dari kehidupan nyata.

Lalu apa yang sebenarnya menyebabkan seseorang bisa mengalami maladaptive daydreaming? Berikut ini penjelasannya, yang dirangkum dari berbagai sumber pada Jumat (31/5/2024).

  1. Memberikan efek positif. Dengan melamun, seseorang meyakini bahwa lamunannya tersebut bisa memberikan efek positif, sehingga merasa kesulitan untuk menghentikannya. Contohnya, melamun akan membantu dalam mengurangi stres atau mengisi waktu kosong.
  2. Larut dalam pikiran sendiri. Orang yang mengalami maladaptive daydreaming akan larut dalam pikirannya sendiri, sampai mengabaikan dunia nyata.
  3. Menghindari masalah. Merasa ingin menghindari atau melarikan diri dari masalah yang membuatnya merasa tidak nyaman dalam kehidupan nyata.
  4. Mencari jalan keluar. Memanfaatkan lamunan untuk mencari berbagai cara agar keluar dari suatu masalah.

Maladaptive daydreaming akan sulit untuk dikenali, karena tidak ada yang bisa didiagnosis secara langsung oleh dokter. Namun dokter bisa menemukan tanda-tanda ini melalui kuisioner khusus dan skala diagnostik seperti ADHD, OCD, depresi, kecemasan, dan gangguan disosiatif.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....