Seberapa Sensitif Sistem Perlindungan Kulit pada Bayi
- 30 Sep 2026 19:52 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Kulit bayi sering terlihat lembut dan halus, tetapi di balik tampilannya, kulit bayi memiliki karakteristik yang berbeda dari kulit orang dewasa. Sistem pelindung kulit atau skin barrier pada bayi masih berkembang sehingga lebih rentan mengalami kekeringan, iritasi, dan gangguan akibat paparan lingkungan maupun bahan tertentu.
Sebuah tinjauan ilmiah yang diterbitkan dalam Archives of Dermatological Research pada 2014 menganalisis perkembangan skin barrier pada bayi selama dua tahun pertama kehidupan. Laine Ludriksone, Natalie Garcia Bartels, Varvara Kanti, Ulrike Blume-Peytavi, dan Jan Kottner meninjau 36 penelitian yang mencakup 8.483 pengukuran transepidermal water loss (TEWL) dan 6.437 pengukuran pH kulit pada bayi sehat cukup bulan berusia hingga 24 bulan.
| Baca juga: Polusi Udara Bisa Merusak Kulit, Benarkah? |
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa pH permukaan kulit bayi mengalami perubahan cukup cepat setelah lahir, terutama pada minggu pertama, kemudian berlanjut secara bertahap selama bulan pertama. Temuan ini menggambarkan bahwa kulit bayi terus menyesuaikan diri dengan lingkungan setelah kelahiran, meskipun fungsi penghalang kulit pada sebagian besar area tubuh sudah dapat bekerja dengan baik sejak awal kehidupan.
Tinjauan lain mengenai skin barrier bayi yang diterbitkan pada 2022 menyebutkan bahwa perkembangan fungsi pelindung kulit terus berlangsung setelah kelahiran dan karakteristik barrier kulit bayi semakin mendekati kulit orang dewasa sekitar usia dua tahun. Area yang tertutup popok juga memiliki kondisi khusus karena kelembapan yang terlalu tinggi, paparan urine atau feses, serta gesekan dapat meningkatkan risiko gangguan pada skin barrier.
Sensitivitas tersebut membuat pemilihan produk perawatan kulit bayi perlu dilakukan secara lebih hati-hati, terutama dengan menghindari bahan yang berpotensi mengiritasi dan memilih produk yang diformulasikan untuk kulit bayi. Penelitian tidak berarti bahwa semua produk pembersih atau pelembap akan mengganggu kulit bayi, karena respons dapat berbeda berdasarkan formulasi, frekuensi penggunaan, kondisi kulit, dan area tubuh.
Hal ini terlihat dalam penelitian acak terkontrol yang dilakukan Kaori Yonezawa dan sejumlah peneliti dari University of Tokyo dan Osaka University, Jepang, terhadap 227 bayi sehat berusia satu minggu hingga tiga bulan. Bayi dibagi menjadi kelompok yang mandi setiap dua hari dan menggunakan lotion setiap hari serta kelompok yang mandi setiap hari tanpa lotion, dan pada usia tiga bulan kelompok perawatan dengan pelembap menunjukkan TEWL wajah lebih rendah serta hidrasi kulit wajah dan tubuh lebih tinggi; kelompok tersebut juga memiliki angka dermatitis popok yang lebih rendah pada bulan pertama.
Karena itu, merawat kulit bayi tidak selalu berarti menggunakan sebanyak mungkin produk, melainkan menjaga skin barrier tetap sehat dengan rutinitas yang lembut dan sesuai kebutuhan. Orang tua dapat memperhatikan respons kulit bayi terhadap produk yang digunakan, menjaga area popok tetap bersih dan kering, serta berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila muncul ruam yang menetap, luka, lepuhan, atau iritasi yang semakin berat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....