Benarkah Micin Bikin Bodoh? Ini Faktanya
- 14 Sep 2026 05:05 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Istilah “micin bikin bodoh” masih sering terdengar ketika membahas monosodium glutamate (MSG), terutama di media sosial. Namun, benarkah anggapan tersebut didukung oleh penelitian ilmiah?
MSG merupakan garam natrium dari asam glutamat, salah satu jenis asam amino yang juga secara alami terdapat dalam berbagai makanan. Penelitian tentang MSG lebih banyak membahas kemungkinan munculnya gejala seperti sakit kepala, kesemutan, atau rasa tidak nyaman setelah mengonsumsinya, bukan penurunan kecerdasan.
Salah satu penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Allergy and Clinical Immunology menguji dugaan reaksi terhadap MSG melalui studi terkontrol dengan plasebo. Hasilnya menunjukkan bahwa respons terhadap MSG tidak selalu konsisten dan penelitian tersebut tidak membuktikan bahwa MSG menyebabkan gangguan fungsi otak atau kecerdasan.
Penelitian lain yang diterbitkan dalam Journal of the American College of Nutrition juga melakukan pengujian terhadap reaksi MSG menggunakan metode double-blind. Hasil penelitian tersebut menjadi bagian dari bukti bahwa keluhan setelah mengonsumsi MSG perlu dilihat secara lebih hati-hati, karena efek yang dirasakan tidak otomatis membuktikan adanya kerusakan otak.
Lalu, dari mana muncul anggapan bahwa MSG bisa membuat seseorang bodoh? Salah satunya berkaitan dengan kekhawatiran lama mengenai glutamat dan sistem saraf, tetapi temuan pada penelitian laboratorium tidak bisa begitu saja disamakan dengan efek konsumsi MSG dalam makanan sehari-hari pada manusia.
European Food Safety Authority (EFSA) juga telah melakukan evaluasi ulang terhadap glutamat sebagai bahan tambahan pangan. Penilaian tersebut membahas keamanan penggunaan glutamat berdasarkan data toksikologi dan paparan makanan, tetapi tidak menyimpulkan bahwa konsumsi MSG menyebabkan seseorang menjadi bodoh atau mengalami penurunan IQ.
Jadi, menyebut MSG sebagai penyebab seseorang menjadi “bodoh” tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat. Yang lebih penting adalah memperhatikan jumlah dan pola konsumsi makanan secara keseluruhan, karena keamanan suatu bahan pangan tidak hanya ditentukan oleh satu istilah yang populer di masyarakat.
Sumber: Geha et al., Journal of Allergy and Clinical Immunology (2000); Tarasoff & Kelly, Journal of the American College of Nutrition (1993); EFSA Journal (2017).
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....