Mengapa Musim Kemarau Sering Memicu Kebakaran Hutan?

  • 12 Sep 2026 14:40 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Musim kemarau menjadi salah satu periode yang perlu diwaspadai karena kondisi lingkungan yang kering dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Minimnya curah hujan membuat tanah, rumput, daun, serta ranting kehilangan kelembapan sehingga lebih mudah terbakar ketika terkena sumber api.

Kondisi tersebut semakin berisiko ketika musim kemarau berlangsung panjang dan disertai suhu udara yang tinggi. Penelitian dalam Journal of Tropical Silviculture menunjukkan adanya hubungan negatif antara curah hujan dan jumlah titik panas, sehingga semakin rendah curah hujan, potensi munculnya titik api cenderung meningkat.

Selain faktor cuaca, fenomena iklim seperti El Niño juga dapat memperparah kondisi kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia. Penelitian berjudul “Spatial and Temporal Analysis of El Niño Impact on Land and Forest Fire in Kalimantan and Sumatra” menemukan bahwa El Niño memengaruhi tingkat keparahan musim kering yang mendahului terjadinya kebakaran hutan dan lahan.

Penelitian lain berjudul “Connecting Indonesian Fires and Drought With the Type of El Niño and Phase of the Indian Ocean Dipole During 1979–2016” menunjukkan bahwa kekeringan dan kebakaran di Indonesia dapat menjadi lebih intens dan berlangsung lebih lama pada jenis El Niño tertentu, terutama ketika dipengaruhi kondisi positif Indian Ocean Dipole atau IOD.

Namun, musim kemarau bukan berarti kebakaran hutan pasti terjadi karena sumber api juga memiliki peran penting, termasuk aktivitas manusia seperti pembakaran lahan, pembuangan puntung rokok sembarangan, dan penggunaan api di sekitar kawasan hutan. Kajian “Causes of Indonesia’s Forest Fires” menunjukkan bahwa kejadian El Niño menjelaskan sebagian besar variasi kebakaran dari tahun ke tahun, sementara penggunaan api untuk kegiatan pertanian juga menjadi faktor penting di tingkat lokal.

Untuk mengurangi risiko kebakaran, masyarakat dapat menghindari pembakaran sampah atau lahan secara terbuka, tidak meninggalkan api setelah melakukan aktivitas di kawasan hutan, serta segera melaporkan kepulan asap atau titik api kepada pihak berwenang. Masyarakat juga perlu menjaga lahan tetap bersih dari bahan mudah terbakar dan meningkatkan kewaspadaan ketika memasuki periode kemarau panjang.

Kewaspadaan menjadi semakin penting karena BMKG pada 2026 mengingatkan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mengalami musim kemarau dengan curah hujan rendah dan terdapat potensi penguatan El Niño pada paruh kedua tahun tersebut. Dengan memahami hubungan antara kekeringan, kondisi iklim, dan aktivitas manusia, pencegahan kebakaran hutan dapat dilakukan lebih awal sehingga kerusakan lingkungan, gangguan kesehatan akibat asap, dan kerugian ekonomi dapat diminimalkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....