Cognitive Numbing: ketika Terlalu Banyak Berita Membuat Kebal

  • 09 Sep 2026 15:09 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Setiap hari, kita dihadapkan pada berbagai informasi tentang bencana, konflik, kecelakaan, hingga penderitaan orang lain. Sebuah berita mungkin awalnya membuat kita terkejut atau sedih, tetapi setelah melihat hal serupa berulang kali, respons kita terkadang menjadi semakin datar. Fenomena ini berkaitan dengan konsep psychic numbing, yang dalam pembahasan populer kerap disebut sebagai cognitive numbing.

Psikolog Paul Slovic menjelaskan bahwa manusia tidak selalu merespons penderitaan secara proporsional dengan jumlah orang yang terdampak. Dalam penelitiannya, Slovic menggunakan istilah psychic numbing untuk menggambarkan kecenderungan respons emosional yang melemah ketika jumlah korban atau skala penderitaan semakin besar.

Di tengah perkembangan media digital, fenomena tersebut menjadi semakin relevan. Satu peristiwa dapat kita lihat berulang kali melalui berbagai unggahan, video, pemberitaan, dan komentar. Paparan terus-menerus bukan berarti otomatis membuat seseorang kehilangan empati, tetapi dapat membuat respons emosional terhadap informasi tertentu menjadi lebih rendah dibandingkan ketika pertama kali melihatnya.

Kondisi ini juga dapat berkaitan dengan kelelahan akibat paparan informasi. Ketika berbagai kabar buruk datang tanpa jeda, seseorang mungkin memilih berhenti membaca berita, menutup media sosial, atau menghindari pembahasan tertentu. Paparan media yang intens dalam situasi bencana juga telah dikaitkan dengan tekanan psikologis pada sebagian orang.

Meski demikian, menjadi kurang responsif terhadap sebuah berita tidak selalu berarti seseorang tidak peduli. Ada perbedaan antara kehilangan empati dan mengambil jarak karena merasa kewalahan. Memberi jeda dari informasi justru dapat menjadi cara untuk menjaga kondisi psikologis agar kita tetap mampu memahami dan merespons informasi secara sehat.

Karena itu, kemampuan mengelola konsumsi informasi menjadi semakin penting. Kita dapat memilih sumber berita yang kredibel, membatasi paparan terhadap konten yang membuat tertekan, serta memberi waktu bagi diri sendiri untuk beristirahat dari media. Mengikuti semua kabar bukan satu-satunya cara untuk menunjukkan kepedulian.

Pada akhirnya, derasnya informasi seharusnya tidak membuat kita kehilangan kepekaan terhadap sesama. Yang perlu dijaga bukan hanya seberapa banyak berita yang kita konsumsi, tetapi juga bagaimana kita memprosesnya. Dengan memberi ruang untuk berhenti sejenak, kita dapat tetap terinformasi tanpa harus kehilangan empati.

Sumber: Paul Slovic, Judgment and Decision Making (2007). Slovic dkk., Daedalus (2017). Pfefferbaum dkk., Disaster Media Coverage and Psychological Outcomes (2014).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....