TBC, sejak Ditemukan Tahun 1882 hingga Sekarang Tak Kunjung Usai

  • 29 Agt 2026 06:13 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Tuberkulosis atau TBC bukanlah penyakit yang baru muncul pada zaman modern, karena bukti mengenai penyakit yang menyerupai TBC telah ditemukan pada manusia sejak ribuan tahun lalu. Penelitian paleomikrobiologi menunjukkan adanya jejak infeksi Mycobacterium tuberculosis pada kerangka manusia dan hewan dari masa lampau, sementara bukti perubahan tulang yang khas TBC juga ditemukan pada sejumlah mumi Mesir.

Salah satu bukti sejarah yang sering menjadi perhatian berasal dari Mesir Kuno, termasuk temuan pada mumi yang diperkirakan berasal sekitar 2400 sebelum Masehi. Penelitian sejarah TBC yang diterbitkan dalam Journal of Preventive Medicine and Hygiene pada 2017 menyebut adanya kelainan tulang khas TBC, termasuk Pott's lesions, pada peninggalan tersebut, sementara catatan tertulis mengenai penyakit yang diduga berkaitan dengan TBC juga ditemukan dalam sejarah India dan China.

Meski penyakitnya telah ada sejak ribuan tahun lalu, manusia pada masa itu belum mengetahui bahwa TBC disebabkan oleh bakteri tertentu. Penyakit tersebut bahkan pernah dikenal dengan berbagai istilah, termasuk consumption, dan selama berabad-abad penyebabnya dikaitkan dengan keturunan, kondisi tubuh, atau faktor lingkungan sebelum teori penyakit menular berkembang.

Perubahan besar terjadi pada abad ke-19 ketika dokter asal Prancis, Jean-Antoine Villemin, melakukan serangkaian eksperimen yang menunjukkan bahwa TBC dapat ditularkan. Dalam penelitian yang dilakukan sejak 1865 dan kemudian dipublikasikan, Villemin berhasil menularkan penyakit dari pasien kepada kelinci serta dari sapi dan kelinci ke hewan lain, memberikan bukti penting bahwa TBC memiliki sifat menular.

Penemuan paling penting kemudian dilakukan oleh dokter dan mikrobiolog asal Jerman, Robert Koch, pada 24 Maret 1882. Pada tanggal tersebut, Koch mengumumkan kepada Berlin Physiological Society bahwa dirinya berhasil menemukan mikroorganisme penyebab TBC, yang kemudian dikenal sebagai Mycobacterium tuberculosis, dan tanggal tersebut kini diperingati setiap tahun sebagai Hari TBC Sedunia.

Dalam penelitiannya, Koch menggunakan teknik pewarnaan untuk mengidentifikasi bakteri pada jaringan penderita TBC dan mengembangkan metode kultur menggunakan media serum yang dipadatkan. Ia kemudian berhasil mengisolasi bakteri tersebut serta menunjukkan kemampuannya menyebabkan penyakit pada hewan percobaan, sebuah rangkaian pembuktian yang menjadi tonggak penting dalam perkembangan ilmu bakteriologi modern.

Penemuan Koch tidak berarti TBC langsung dapat disembuhkan, tetapi menjadi dasar bagi perkembangan diagnosis, pencegahan, dan pengobatan penyakit tersebut. Sejumlah penelitian dan inovasi kemudian berkembang, termasuk pemeriksaan tuberkulin, vaksin BCG, hingga obat antituberkulosis seperti streptomisin, sehingga sejarah TBC menunjukkan bahwa penyakit ini telah ada sejak ribuan tahun lalu, tetapi penyebab bakterinya baru berhasil diidentifikasi secara ilmiah pada 1882.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....