Kenapa Gorengan, Santan, Jeroan dan Makanan Berlemak Menjadi Musuh Kesehatan?
- 26 Agt 2026 09:02 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Gorengan, makanan bersantan, jeroan dan berbagai makanan berlemak memang sulit dipisahkan dari menu masyarakat Indonesia karena rasanya gurih dan menggugah selera. Namun, jika dikonsumsi terlalu sering dan dalam jumlah berlebihan, makanan tersebut dapat meningkatkan asupan lemak dan kalori serta berkontribusi terhadap risiko obesitas, diabetes, tekanan darah tinggi dan penyakit jantung, sebagaimana diingatkan Kementerian Kesehatan RI.
Gorengan menjadi salah satu makanan yang perlu dibatasi karena proses penggorengan membuat makanan menyerap minyak sehingga kandungan kalori dan lemaknya meningkat. Kemenkes RI juga menjelaskan bahwa konsumsi gorengan secara berlebihan dapat meningkatkan kadar kolesterol dan dikaitkan dengan meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular serta diabetes tipe 2.
Bukan hanya jumlah minyak yang perlu diperhatikan, penggunaan minyak secara berulang juga dapat menjadi persoalan karena pemanasan berulang dapat menyebabkan perubahan pada komponen lemak. Kemenkes RI menyarankan mengurangi teknik menggoreng, terutama deep frying, dan memilih metode seperti memanggang, mengukus atau menumis dengan sedikit minyak.
Penelitian yang diterbitkan dalam The BMJ terhadap lebih dari 106 ribu perempuan pascamenopause menemukan bahwa konsumsi makanan yang digoreng secara rutin berkaitan dengan risiko kematian yang lebih tinggi, terutama pada konsumsi ayam serta ikan atau makanan laut yang digoreng. Temuan ini tidak berarti satu kali makan gorengan langsung menyebabkan penyakit, tetapi menunjukkan pentingnya memperhatikan pola konsumsi dalam jangka panjang.
Sementara itu, makanan bersantan juga perlu dikonsumsi secara bijak, terutama apabila menggunakan santan kental dan disajikan bersama lauk yang tinggi lemak. Kemenkes RI memasukkan kuah santan sebagai salah satu teknik memasak yang sebaiknya dikurangi pada pengaturan pola makan untuk dislipidemia, dengan alternatif memasak seperti mengukus, memanggang atau menumis menggunakan sedikit minyak.
Jeroan seperti hati, otak, jantung, babat, usus dan paru memang mengandung sejumlah zat gizi, tetapi beberapa jenis jeroan juga tinggi kolesterol, lemak dan purin sehingga tidak dianjurkan dikonsumsi terlalu sering atau dalam jumlah banyak. Kemenkes RI secara khusus menyarankan membatasi makanan tinggi kolesterol, termasuk jeroan, sebagai bagian dari upaya menjaga kadar kolesterol dan kesehatan jantung.
Dari sisi penelitian, pola makan yang banyak mengandung makanan digoreng, lemak tambahan dan daging organ juga menjadi perhatian dalam pedoman pencegahan penyakit kardiovaskular karena berkaitan dengan berbagai faktor risiko penyakit jantung. Literatur ilmiah menunjukkan bahwa lemak trans dan lemak jenuh yang berlebihan dapat memberikan dampak buruk terhadap profil lipid serta meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.
Karena itu, menjaga kesehatan bukan berarti harus menghilangkan gorengan, santan atau jeroan sama sekali, melainkan mengatur porsi, frekuensi dan cara pengolahannya. Kemenkes RI menganjurkan membatasi asupan lemak, memperbanyak sayur dan buah, memilih sumber protein yang lebih rendah lemak serta mengganti makanan berlemak dengan pilihan yang mengandung lemak tak jenuh seperti ikan, kacang-kacangan dan alpukat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....