Menatap Sisi Gelap: Mengapa Kita Begitu Sulit Melihat Kebaikan Orang Lain?

  • 17 Jul 2026 00:47 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Di tengah hiruk-pikuk dunia modern yang serba cepat, kecenderungan manusia untuk lebih fokus pada kesalahan orang lain dibanding kebaikan mereka kini menjadi fenomena sosial yang kian nyata. Fenomena psikologis yang memprihatinkan ini tidak hanya merenggangkan hubungan antarindividu, tetapi juga menciptakan sekat ketidakpercayaan yang mendalam di tengah masyarakat.

Para ahli menyebutkan bahwa otak manusia secara evolusioner memang dirancang lebih peka terhadap ancaman dan hal-hal negatif demi bertahan hidup, sebuah konsep yang dikenal sebagai negativity bias. Akibat cetak biru genetis ini, satu kesalahan kecil dari seseorang sering kali langsung menghapus puluhan kebaikan yang telah mereka lakukan sebelumnya.

Kehadiran media sosial turut memperparah kondisi ini dengan membanjiri ruang digital kita melalui narasi penghakiman dan budaya penolakan (cancel culture). Algoritma yang mengutamakan kemarahan dan kontroversi membuat mata kita semakin buram untuk melihat ketulusan di balik tindakan sederhana sesama manusia.

Seorang pakar neuropsikologi ternama menegaskan bahwa ingatan kita sangat rentan menyimpan dendam dibandingkan menyimpan rasa terima kasih karena mekanisme pertahanan diri biologis kita. Ia mengibaratkan bahwa pikiran manusia bekerja seperti Velcro untuk hal buruk yang sangat mudah menempel, namun bersikap layaknya Teflon yang licin untuk hal-hal baik.

Dampak dari hilangnya kemampuan melihat sisi positif orang lain ini sangat merusak, mulai dari memicu stres interpersonal hingga runtuhnya rasa aman di ruang publik. Lingkungan kerja, keluarga, hingga lingkaran pertemanan pun perlahan berubah menjadi medan perang dingin yang dipenuhi kecurigaan tanpa ujung.

Untungnya, melatih diri untuk kembali melihat kebaikan orang lain bukanlah hal yang mustahil jika kita mau membiasakan praktik empati dan refleksi diri secara konsisten. Cobalah untuk menjeda penilaian instan Anda dan mulailah mencari minimal satu hal positif dari orang yang paling menguji kesabaran Anda hari ini.

Pada akhirnya, keputusan untuk melihat kebaikan orang lain adalah sebuah pilihan sadar untuk memanusiakan sesama sekaligus merawat kedamaian jiwa kita sendiri. Mari kita runtuhkan tembok prasangka ini sebelum kita benar-benar lupa bagaimana rasanya hidup berdampingan dalam harmoni dan rasa saling percaya.

Sumber
  • Konsep Negativity Bias & Analogi Velcro/Teflon:

    Dr. Rick Hanson, Ph.D. (Neuropsikolog dan penulis buku laris “Buddha's Brain: The Practical Neuroscience of Happiness, Love, and Wisdom”).

  • Pengaruh Efek Negatif dalam Kehidupan Sosial:

    Roy F. Baumeister & John Tierney (Penulis buku “The Power of Bad: How the Negativity Effect Rules Us and How We Can Rule It” yang membahas bagaimana hal negatif mendominasi keputusan manusia).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....