Cegah Stunting sejak Dini, Kunci Lahirkan Generasi Sehat dan Berkualitas

  • 27 Apr 2026 17:10 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu – Stunting masih menjadi persoalan serius yang mengancam kualitas generasi masa depan. Kondisi ini merupakan gangguan pertumbuhan kronis pada anak akibat kekurangan gizi dalam jangka panjang, terutama pada masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yakni sejak janin hingga usia dua tahun.

Ketua IPeKB Daerah Bengkulu, Helmi Suanda, menjelaskan penyebab utama stunting tidak hanya berasal dari kekurangan gizi kronis, tetapi juga dipengaruhi oleh berbagai faktor lain. “Kurangnya asupan gizi pada ibu hamil dan anak saat masa pertumbuhan menjadi faktor utama. Selain itu, keterbatasan akses air bersih dan sanitasi, pola asuh yang kurang tepat, serta faktor ekonomi juga sangat berpengaruh,” ujarnya, Kamis 23 April 2026.

Lingkungan yang tidak sehat, lanjutnya, dapat meningkatkan risiko infeksi berulang yang menghambat penyerapan gizi pada anak. Di sisi lain, kurangnya pengetahuan orang tua terkait gizi seimbang dan pentingnya pemberian ASI eksklusif juga memperbesar risiko stunting.

Dampak stunting tidak hanya dirasakan pada masa anak-anak, tetapi juga berlanjut hingga dewasa. Selain menyebabkan postur tubuh pendek permanen dan berat badan tidak ideal, stunting juga berdampak pada kemampuan kognitif, seperti rendahnya daya belajar dan memori.

Meski demikian, stunting dapat dicegah jika dilakukan sejak dini. Upaya pencegahan harus dimulai dari pemenuhan gizi seimbang bagi ibu hamil, pemberian ASI eksklusif selama enam bulan, hingga pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) yang bergizi.

“Rutin mengonsumsi tablet tambah darah, pemberian ASI eksklusif, mengoptimalkan 1.000 HPK, menjaga kebersihan lingkungan, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, serta menghindari paparan asap rokok merupakan langkah prioritas dalam mencegah stunting,” kata Helmi.

Menurut data Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting di Provinsi Bengkulu masih berada di angka 18,8 persen, lebih tinggi dari rata-rata nasional sebesar 14 persen. Hal ini menunjukkan bahwa upaya pencegahan stunting perlu terus diperkuat melalui edukasi dan intervensi yang berkelanjutan.

“Penyuluh KB sebagai garda terdepan program Bangga Kencana memiliki peran penting dalam mendampingi keluarga. Dengan intervensi nutrisi dan pola asuh yang tepat pada periode 1.000 HPK, risiko stunting dapat diminimalisir secara signifikan,” tuturnya.

Melalui edukasi yang masif dan berkesinambungan kepada masyarakat, Helmi optimistis angka stunting dapat ditekan, sehingga mampu melahirkan generasi yang sehat, cerdas, dan siap mendukung pembangunan berkelanjutan.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....