Jangan Asal Masukkan Data ke AI

  • 01 Okt 2026 18:38 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari. Mulai dari membuat tulisan, merangkum dokumen, menerjemahkan, hingga membantu pekerjaan, semuanya bisa dilakukan hanya melalui sebuah perintah.

Namun, kemudahan tersebut juga perlu diikuti dengan kehati-hatian, terutama ketika pengguna memasukkan informasi pribadi atau data yang bersifat rahasia. Data yang dimasukkan ke dalam layanan AI merupakan bagian dari informasi yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan privasi.

Salah satu jenis data yang sebaiknya tidak sembarangan dimasukkan adalah informasi identitas pribadi. Nomor identitas, alamat lengkap, nomor telepon, data rekening, kata sandi, hingga dokumen yang memuat informasi sensitif sebaiknya tidak diberikan kepada chatbot AI tanpa alasan dan perlindungan yang jelas.

Hal serupa berlaku untuk dokumen pekerjaan. Laporan internal, data pelanggan, informasi keuangan perusahaan, strategi bisnis, atau dokumen yang belum dipublikasikan dapat mengandung informasi rahasia yang tidak seharusnya dibagikan ke layanan eksternal.

National Institute of Standards and Technology atau NIST mencatat bahwa penggunaan AI generatif memiliki risiko terkait paparan data sensitif. Karena itu, pengelolaan risiko privasi dan keamanan menjadi bagian penting dalam penggunaan teknologi AI.

Pengguna juga perlu memahami bagaimana sebuah layanan AI menangani data yang diberikan. Kebijakan privasi dan pengaturan penggunaan data dapat berbeda antara satu layanan dengan layanan lainnya, sehingga penting untuk mengetahui informasi apa yang dikumpulkan dan bagaimana data tersebut diproses.

Information Commissioner's Office (ICO) Inggris juga menegaskan bahwa data pribadi yang dimasukkan pengguna melalui perintah atau prompt termasuk bagian dari data yang perlu diperhatikan dalam konteks perlindungan data. Bukan berarti AI harus dihindari, pengguna tetap dapat memanfaatkannya untuk berbagai kebutuhan, tetapi sebaiknya menggunakan data yang sudah disamarkan dan menghapus informasi sensitif sebelum memasukkannya ke dalam prompt.

Sebagai contoh, ketika meminta AI menganalisis sebuah dokumen, nama, nomor identitas, alamat, nomor rekening, atau informasi rahasia lainnya dapat dihapus terlebih dahulu. Dengan begitu, pengguna tetap mendapatkan bantuan AI tanpa memberikan informasi yang tidak diperlukan.

Pada akhirnya, kecanggihan AI tidak menghilangkan kebutuhan untuk menjaga privasi. Sebelum menekan tombol kirim, pengguna perlu bertanya sederhana: apakah informasi ini aman jika diketahui pihak lain?

Sumber: NIST, AI Technologies and Their Challenges (2026); NIST Cybersecurity, Privacy, and AI; ICO, Generative AI and Individual Rights & Debunking Data Protection Myths about AI.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....