LPPM Unib Olah Limbah Sabut Kelapa Jadi Geotextile dan Briket

  • 15 Sep 2026 13:48 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu Tengah - Limbah sabut kelapa di Kecamatan Pondok Kelapa, Kabupaten Bengkulu Tengah, mulai dilirik sebagai bahan baku produk bernilai ekonomi. Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Bengkulu (Unib) bermitra dengan Asosiasi Pengusaha Mikro, Kecil dan Menengah Indonesia (Apmikindo) Bengkulu Tengah untuk mengolah limbah tersebut melalui kegiatan pengabdian berbasis riset.

Dalam kegiatan tersebut, tim LPPM Unib yang terdiri dari Prof. Mochamad Ridwan, Dr. Yar Johan, dan Azansyiah yang digelar di desa Pekik Nyaring, Pondok Kelapa, 15 September 2026, memberikan pelatihan pengolahan limbah sabut kelapa menjadi sejumlah produk bernilai tambah. Produk yang diperkenalkan antara lain geotextile berbahan cocofiber dan briket berbahan cocopeat.

Prof. Mochamad Ridwan mengatakan, sabut kelapa memiliki potensi besar untuk diolah menjadi berbagai produk yang memiliki nilai ekonomi. "Sayang jika limbah ini dibuang begitu saja, padahal limbah kulit kelapa, khususnya sabutnya, banyak yang bisa dimanfaatkan," katanya.

Menurut Ridwan, pemanfaatan limbah sabut kelapa tidak hanya bertujuan mengurangi limbah, tetapi juga mendorong masyarakat menciptakan produk yang memiliki nilai jual. Ia menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya menghubungkan hasil riset perguruan tinggi dengan kebutuhan masyarakat.

"Kita ingin masyarakat melihat bahwa sabut kelapa bukan sekadar limbah, tetapi bisa menjadi bahan baku produk yang memiliki nilai tambah dan peluang usaha. Harapannya, teknologi yang diberikan ini tidak berhenti pada pelatihan, tetapi bisa diterapkan dan dikembangkan masyarakat secara berkelanjutan," katanya.

Program tersebut menjadi salah satu upaya meningkatkan nilai ekonomi limbah sabut kelapa yang selama ini sebagian besar belum dimanfaatkan secara optimal. Kecamatan Pondok Kelapa sendiri memiliki potensi tanaman kelapa yang cukup besar sehingga menghasilkan limbah sabut dalam jumlah tidak sedikit.

Cocofiber merupakan serat yang diperoleh dari hasil pengolahan sabut kelapa dan memiliki karakteristik kuat serta lentur. Karakteristik tersebut membuat cocofiber dapat dimanfaatkan sebagai bahan geotextile untuk berbagai kebutuhan, termasuk penguatan dan perlindungan tanah.

Sementara itu, cocopeat merupakan bagian halus dari sabut kelapa yang memiliki kemampuan menyerap dan menahan air. Selain dimanfaatkan sebagai media tanam, cocopeat juga dapat diolah menjadi bahan bakar alternatif dalam bentuk briket.

Peralatan yang dibuthkan untuk mengolah sabut kelapa menjadi briket arang dan geo-tekstile

Melalui kegiatan tersebut, masyarakat tidak hanya diperkenalkan pada teknik pengolahan limbah sabut kelapa, tetapi juga diarahkan untuk melihatnya sebagai bahan baku usaha. Pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai tambah diharapkan dapat membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat setempat.

Sekretaris Apmikindo Bengkulu Tengah, Susi Handayani, mengatakan pihaknya menyambut baik kerja sama dengan LPPM Unib dalam pemanfaatan limbah sabut kelapa. "Kami sangat mendukung kegiatan seperti ini karena potensi kelapa di daerah kita cukup besar, sementara limbah sabutnya selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal," katanya.

Menurut Susi, kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dapat membantu pelaku usaha memahami cara mengolah bahan baku lokal menjadi produk yang bernilai ekonomi. Ia berharap kegiatan tersebut dapat dilanjutkan dengan pendampingan dalam proses produksi, peningkatan kualitas, hingga pemasaran produk.

Program tersebut diharapkan menjadi langkah awal dalam mengembangkan pemanfaatan limbah sabut kelapa secara berkelanjutan di Bengkulu Tengah. Dengan pengolahan yang tepat, limbah kelapa dapat menjadi produk bernilai tambah sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....