Mengajarkan Bahasa Asing kepada Anak, Kapan Waktu yang Tepat dan Bagaimana Caranya?
- 29 Agt 2026 22:21 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Mengajarkan bahasa asing kepada anak sejak usia dini semakin banyak dilakukan orang tua, terutama karena anak dinilai memiliki kemampuan belajar bahasa yang cukup fleksibel. Namun, proses tersebut sebaiknya tidak dilakukan dengan tekanan, melainkan melalui kegiatan yang menyenangkan agar anak terbiasa mendengar, memahami, dan menggunakan bahasa baru secara bertahap.
Paparan terhadap lebih dari satu bahasa juga dapat memberikan pengalaman yang memperkaya perkembangan anak, meskipun manfaatnya tidak selalu berarti anak otomatis memiliki kemampuan kognitif yang lebih tinggi. Kajian yang dilakukan Raluca Barac, Ellen Bialystok, Dina C. Castro, dan Marta Sanchez pada Early Childhood Research Quarterly2014 meninjau 102 artikel ilmiah mengenai perkembangan kognitif anak prasekolah yang terpapar dua bahasa dan menemukan bahwa pengalaman dua bahasa berkaitan dengan perubahan pada sejumlah kemampuan seperti kontrol eksekutif dan theory of mind, meski hasil penelitian tidak selalu konsisten pada semua kemampuan.
Penelitian yang lebih baru juga menunjukkan bahwa paparan bahasa sejak dini berkaitan dengan perubahan pada cara otak memproses bahasa. Sebuah systematic review yang diterbitkan pada Developmental Review edisi Juni 2026 menganalisis 94 artikel ilmiah dan menemukan bahwa pengalaman bilingual sejak dini dapat memengaruhi perkembangan struktur dan fungsi otak, sementara peningkatan paparan serta kemampuan bahasa kedua berkaitan dengan proses adaptasi saraf selama pembelajaran.
Meski demikian, orang tua tidak perlu menganggap semakin banyak bahasa yang diberikan maka semakin pintar anak, karena kemampuan setiap anak berkembang dengan kecepatan berbeda. Meta-analisis yang diterbitkan dalam Psychological Bulletin pada 2020 oleh Hilde Lowell Gunnerud dan rekan-rekannya menganalisis 143 perbandingan kelompok dengan 583 ukuran efek dan menemukan keunggulan bilingual terhadap fungsi eksekutif secara keseluruhan hanya bersifat kecil, sehingga klaim bahwa bilingualisme selalu meningkatkan kemampuan kognitif perlu disikapi secara hati-hati.
Untuk memulai, orang tua dapat memilih satu bahasa asing yang paling relevan dengan kebutuhan anak kemudian memperkenalkannya melalui aktivitas sehari-hari. Membaca buku bergambar, menyanyikan lagu, menonton tayangan edukatif sesuai usia, bermain permainan sederhana, atau menyebutkan nama benda dalam bahasa asing dapat menjadi cara yang lebih alami dibandingkan memaksa anak menghafal puluhan kosakata sekaligus.
Konsistensi juga lebih penting daripada durasi belajar yang panjang tetapi hanya dilakukan sesekali, sehingga orang tua dapat menyediakan waktu singkat namun rutin untuk menggunakan bahasa asing. Jika anak masih melakukan kesalahan tata bahasa atau mencampur dua bahasa dalam satu kalimat, orang tua sebaiknya tidak langsung memarahinya karena proses tersebut dapat terjadi ketika anak sedang mengembangkan beberapa sistem bahasa sekaligus.
Pada akhirnya, mengajarkan bahasa asing kepada anak bukan perlombaan untuk membuat mereka secepat mungkin fasih berbicara, melainkan proses memperkenalkan kemampuan komunikasi baru secara bertahap. Dengan paparan yang konsisten, lingkungan yang mendukung, serta metode belajar yang sesuai usia dan minat anak, bahasa asing dapat menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus membuka kesempatan anak mengenal budaya dan cara berkomunikasi yang lebih luas.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....