Kamera Analog Kembali Jadi Sorotan, Tren Sesaat atau Akan Bertahan Lama?

  • 17 Agt 2026 07:50 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Kamera analog kembali mencuri perhatian di tengah dominasi kamera digital dan kamera ponsel yang menawarkan hasil instan. Tren ini tidak hanya terlihat dari munculnya kembali kamera film lawas di kalangan anak muda, tetapi juga dari produk-produk analog dan film-like yang kembali dikembangkan oleh sejumlah produsen kamera.

Kebangkitan fotografi analog antara lain didorong oleh keinginan pengguna untuk mendapatkan pengalaman memotret yang berbeda dari kamera ponsel, mulai dari proses memotret yang lebih lambat hingga hasil foto dengan karakter warna dan grain khas film. Fujifilm bahkan menyebut adanya peningkatan minat terhadap kamera sekali pakai QuickSnap sejak sekitar 2019, sementara riset konsumennya menunjukkan pengguna muda tertarik pada pengalaman fotografi analog yang membuat mereka lebih hadir dalam momen dan tidak terus-menerus memeriksa hasil foto atau respons di media sosial.

Perkembangan tersebut juga terlihat dari langkah industri yang kembali memberikan ruang bagi pengalaman fotografi analog. Pada April 2025, Fujifilm mengumumkan penjualan kumulatif lini Instax yang telah melampaui 100 juta unitsecara global sejak diluncurkan pada 1998, mencakup kamera instan analog, kamera hybrid, hingga printer foto dari ponsel yang menggabungkan pengalaman digital dan fisik.

Tren ini bahkan berlanjut dengan hadirnya produk baru, bukan sekadar mengandalkan kamera lawas di pasar barang bekas. Pada Maret 2026, Fujifilm meluncurkan Instax Mini 13 sebagai kamera instan analog entry-level, sedangkan pada 2025 perusahaan juga memperkenalkan X Half, kamera digital yang dirancang dengan mengambil inspirasi dari kamera half-frame klasik dan menawarkan pengalaman fotografi bernuansa film.

Daya tarik kamera analog juga berkaitan dengan pengalaman yang tidak bisa sepenuhnya diberikan kamera digital, seperti keterbatasan jumlah jepretan, proses menunggu film dicuci dan dicetak, serta ketidakpastian hasil sebelum foto diproses. Dalam konteks tersebut, kamera analog bukan semata-mata dipilih karena kualitas teknis, melainkan juga karena menawarkan proses kreatif yang lebih lambat dan membuat setiap jepretan terasa lebih bernilai.

Meski demikian, kebangkitan kamera analog tidak berarti teknologi film akan kembali menggantikan kamera digital seperti pada masa lalu. Harga film, biaya pencucian dan pemindaian, keterbatasan laboratorium, serta kepraktisan kamera digital membuat analog lebih mungkin bertahan sebagai ceruk fotografi yang memiliki komunitas dan pasar tersendiri, bukan sebagai teknologi fotografi utama. Di sisi lain, Kodak masih melihat adanya momentum baru untuk film dan terus mengembangkan produk filmnya, termasuk KODAK VERITA 200D yang diperkenalkan pada 2026, menunjukkan bahwa ekosistem film masih memiliki ruang untuk berkembang.

Melihat perkembangan tersebut, kamera analog tampaknya tidak sekadar menjadi tren nostalgia yang muncul sesaat lalu menghilang. Selama masih ada pengguna yang mencari pengalaman fotografi yang lebih personal, karakter visual film, serta sensasi memiliki foto fisik, kamera analog berpeluang bertahan sebagai bagian dari budaya fotografi modern bukan sebagai pengganti kamera digital, melainkan sebagai pilihan alternatif yang menawarkan pengalaman berbeda.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....