Sudahkah Anak Muda Merdeka dari Ketergantungan Gadget?
- 11 Agt 2026 15:09 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu – Momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi kesempatan untuk memaknai kembali arti kemerdekaan di tengah kehidupan yang semakin lekat dengan teknologi digital. Bagi generasi muda, kemerdekaan di era digital tidak hanya berarti bebas mengakses informasi, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mengendalikan penggunaan gadget agar teknologi menjadi alat untuk berkembang, bukan justru mengendalikan kehidupan sehari-hari.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia, Prof. Dr. Pratikno, M.Soc.Sc, mengingatkan tingginya paparan layar di Indonesia yang telah mencapai lebih dari 7,5 jam per hari. Dalam keterangan Kementerian Kesehatan RI pada November 2025, Pratikno juga menyoroti paparan screen time yang semakin tinggi, termasuk pada anak-anak, serta kaitannya dengan persoalan kesehatan mental dan kemampuan bersosialisasi.
Persoalan penggunaan gadget pada anak dan remaja tidak hanya berkaitan dengan berapa lama seseorang berada di depan layar, tetapi juga apakah penggunaan tersebut sudah sulit dikendalikan dan menimbulkan dampak negatif dalam kehidupan sehari-hari. Dr. Hans Henri P. Kluge, Regional Director for Europe World Health Organization (WHO), mengatakan media sosial dapat memberikan dampak positif maupun negatif terhadap kesehatan dan kesejahteraan remaja, sehingga literasi digital menjadi semakin penting.
Data WHO Regional Office for Europe melalui studi Health Behaviour in School-aged Children menunjukkan penggunaan media sosial bermasalah pada remaja meningkat dari 7 persen pada 2018 menjadi 11 persen pada 2022. Studi yang melibatkan hampir 280 ribu anak dan remaja berusia 11, 13 dan 15 tahun di 44 negara dan wilayah tersebut juga menemukan 12 persen remaja berada pada risiko penggunaan gim yang bermasalah.
Di Indonesia, perhatian terhadap kesehatan mental anak dan remaja juga semakin diperkuat melalui Program Cek Kesehatan Gratis. Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan Republik Indonesia, menyampaikan pada 9 Maret 2026 bahwa dari sekitar tujuh juta anak yang telah menjalani skrining CKG periode 2025–2026, hampir 10 persen menunjukkan indikasi masalah kesehatan jiwa, termasuk gejala kecemasan dan depresi.
Budi Gunadi Sadikin menjelaskan persoalan kesehatan jiwa anak tidak hanya dipengaruhi faktor individu, tetapi juga lingkungan keluarga, pertemanan dan pendidikan. Temuan tersebut menjadi pengingat bahwa kesehatan mental generasi muda membutuhkan perhatian bersama, termasuk bagaimana keluarga dan lingkungan pendidikan membentuk kebiasaan anak dalam menggunakan teknologi serta berinteraksi di ruang digital.
Karena itu, menjadi “merdeka” dari ketergantungan gadget bukan berarti generasi muda harus meninggalkan teknologi, melainkan mampu menggunakannya secara sehat, sadar dan bertanggung jawab. Momentum bulan kemerdekaan dapat menjadi pengingat bahwa generasi muda juga perlu merdeka dalam mengatur waktu layar, menjaga interaksi sosial secara langsung, aktif bergerak, belajar, berkarya dan menggunakan teknologi untuk membuka peluang tanpa kehilangan kendali atas kehidupan nyata.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....