Kenapa FYP dan Iklan di HP Kita Terasa Seperti Membaca Pikiran?

  • 08 Agt 2026 09:16 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Belakangan ini, ungkapan "FYP-ku berubah nih, gara-gara algoritma" sudah jadi bahasa sehari-hari di media sosial. Banyak orang juga sering merasa heran ketika baru saja membicarakan sesuatu secara langsung, tak lama kemudian iklan tentang barang tersebut muncul di beranda TikTok, Instagram, atau Facebook mereka.

Fenomena ini memunculkan kecurigaan yang cukup populer: Jangan-jangan HP kita diam-diam "menguping" percakapan lewat mikrofon. Tidak jarang, keheranan ini bahkan berubah menjadi candaan di kalangan warganet, sampai muncul istilah seperti "algoritma udah kenal aku lebih dari diriku sendiri".

Padahal, di balik pengalaman yang terasa ajaib itu, ada mekanisme kerja algoritma yang sebenarnya bisa dijelaskan secara logis dan ilmiah. Berdasarkan berbagai kajian teknologi, tidak ditemukan bukti bahwa aplikasi secara diam-diam mengaktifkan mikrofon untuk merekam percakapan penggunanya demi menargetkan iklan.

Penjelasan yang lebih masuk akal justru terletak pada cara kerja algoritma dalam mengolah jejak digital kita, baik yang kita sadari maupun tidak. Kecurigaan tentang "penyadapan" ini memang wajar muncul, sebab kebetulan antara obrolan dan iklan yang muncul terasa terlalu presisi untuk dianggap kebetulan biasa.

Algoritma media sosial sebenarnya "membaca" kita lewat apa yang disebut jejak digital aktif, yaitu segala interaksi yang secara sadar kita lakukan di dalam aplikasi. Setiap tombol like, komentar, akun yang di-follow, hingga durasi kita berhenti menonton sebuah video menjadi sinyal kuat bagi algoritma tentang minat kita.

Bahkan kata kunci yang pernah kita ketik di kolom pencarian, misalnya mencari "sepatu lari" di Google atau "resep kopi" di Instagram, langsung tersimpan dan diingat oleh sistem sebagai indikasi ketertarikan. Selain jejak aktif, ada pula jejak digital pasif yang kita tinggalkan tanpa disadari, seperti data lokasi saat check-in di sebuah tempat maupun riwayat penjelajahan lewat cookies situs web.

Data pasif ini juga mencakup identitas unik perangkat seperti IDFA di iPhone atau AAID di Android, yang memudahkan pengiklan mengenali kita di berbagai aplikasi. Seluruh jejak ini kemudian dihubungkan lintas aplikasi maupun lintas platform, sebuah proses yang dikenal dengan istilah cross-platform tracking.

Jadi ketika kita membuka satu aplikasi belanja untuk membandingkan harga, aplikasi lain yang berbeda bisa saja ikut menampilkan iklan produk serupa karena keduanya sama-sama terhubung dengan jaringan pengiklan yang sama. Seluruh data aktif dan pasif tersebut kemudian diproses oleh algoritma kecerdasan buatan yang berperan sebagai semacam "data profiler".

Algoritma ini menyusun kita ke dalam profil konsumen yang sangat detail, bukan hanya berdasarkan usia atau jenis kelamin, tetapi juga pola kebiasaan harian dan kemungkinan niat membeli sesuatu. Sebuah kajian di arXiv berjudul "The Impact of Cloaking Digital Footprints on User Privacy and Personalization" bahkan menjelaskan bahwa dari jejak digital yang tampak sepele, algoritma dapat menyimpulkan sifat-sifat pribadi yang sangat intim tanpa sepengetahuan penggunanya, sebuah pendekatan yang dalam riset psikologi disebut sebagai psychological targeting.

Itulah sebabnya iklan yang muncul di HP kita terasa begitu personal dan seolah tahu apa yang sedang kita pikirkan, padahal semuanya berasal dari kalkulasi data, bukan kemampuan membaca isi kepala manusia. Menariknya, kebetulan antara obrolan dan iklan yang muncul juga bisa dijelaskan lewat cara kerja otak manusia sendiri.

Adam Mosseri, salah satu petinggi Instagram, pernah menjelaskan bahwa orang sering kali sebenarnya sudah melihat sebuah iklan sebelumnya saat menggulir layar dengan cepat, namun tidak menyadarinya. Iklan itu tetap terekam di alam bawah sadar, sehingga ketika topik yang sama muncul dalam percakapan, otak kita justru mengasosiasikannya sebagai sebuah "kebetulan yang aneh", padahal sebenarnya bukan.

Di sisi lain, kekhawatiran soal privasi ini juga tidak sepenuhnya tidak berdasar. Pada 2024, dokumen materi pemasaran dari sebuah perusahaan periklanan sempat bocor dan menyebut konsep bernama "Active Listening", yang digambarkan sebagai teknologi yang mengklaim mampu memanfaatkan data suara secara real-time untuk menargetkan iklan.

Kebocoran dokumen ini sempat memicu kekhawatiran privasi secara luas, meski hingga saat ini belum ada bukti teknis publik yang mengonfirmasi bahwa platform besar benar-benar merekam percakapan pengguna secara ilegal untuk kepentingan komersial. Dari segi teknis, banyak pihak menilai skenario "penyadapan massal" ini sebenarnya kurang masuk akal jika dilihat dari sisi biaya dan risiko.

Merekam, mengubah suara menjadi teks, lalu menganalisis percakapan miliaran pengguna secara terus-menerus membutuhkan infrastruktur komputasi yang sangat mahal, jauh lebih mahal dibanding sekadar memanfaatkan data perilaku digital yang sudah tersedia. Ditambah lagi, risiko hukum bagi perusahaan teknologi bila praktik penyadapan semacam itu terbukti dilakukan tanpa persetujuan pengguna akan sangat besar, sehingga secara bisnis pun langkah tersebut dinilai tidak menguntungkan.

Meski begitu, bukan berarti kita tidak perlu peduli dengan privasi digital. Pengguna tetap memiliki kendali untuk membatasi seberapa jauh data mereka dilacak, misalnya dengan menonaktifkan izin akses yang tidak perlu atau membatasi pelacakan iklan lewat pengaturan privasi di ponsel.

Dengan memahami bagaimana algoritma sebenarnya bekerja, kita bisa lebih bijak menyikapi fenomena FYP maupun iklan yang terasa "tahu isi pikiran kita". Pemahaman ini penting agar kita tidak terjebak pada mitos yang belum tentu benar, sekaligus tetap waspada terhadap risiko privasi yang nyata

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....