Fast Charging Bikin Baterai Cepat Rusak? Ini Faktanya
- 01 Agt 2026 10:40 WIB
- Bengkulu
Poin Utama
- Fast charging berpotensi mempercepat degradasi baterai jika dilakukan dengan arus tinggi secara terus-menerus, memicu lithium plating pada anoda.
- Strategi pengisian daya yang cerdas dan sistem manajemen baterai (BMS) yang baik dapat menekan dampak tersebut secara signifikan.
- Kebiasaan lain seperti bermain gim sambil mengisi daya, membiarkan baterai di level 100 persen, atau menguras baterai hingga habis justru berpengaruh tidak kalah besar terhadap umur baterai dibanding kecepatan pengisian itu sendiri.
RRI.CO.ID, Bengkulu - Teknologi fast charging kini menjadi fitur yang hampir selalu hadir pada smartphone modern. Meski menawarkan waktu pengisian daya yang jauh lebih singkat, tidak sedikit pengguna yang khawatir fitur ini dapat mempercepat kerusakan baterai, benarkah demikian?
Sejumlah penelitian terbaru justru menunjukkan bahwa anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Faktor yang lebih berpengaruh terhadap umur baterai lithium-ion ternyata bukan hanya kecepatan pengisian daya, melainkan juga suhu baterai, tingkat pengisian (state of charge), serta cara sistem mengatur arus listrik selama proses berlangsung.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Case Studies in Thermal Engineering pada 2025 menemukan bahwa pengisian daya berkecepatan tinggi memang dapat mempercepat degradasi baterai apabila dilakukan dengan arus tinggi secara terus-menerus. Kondisi ini dapat memicu terbentuknya lithium plating, yakni penumpukan logam litium pada anoda yang berpotensi mengurangi kapasitas baterai dalam jangka panjang.
Kabar baiknya, dampak tersebut ternyata bisa ditekan melalui strategi pengisian daya yang lebih cerdas. Dengan mengatur arus pengisian secara dinamis sesuai kondisi baterai dan suhunya, umur baterai dapat diperpanjang secara signifikan dibandingkan metode pengisian cepat konvensional.
Temuan serupa juga dilaporkan dalam riset yang meneliti baterai lithium iron phosphate (LFP). Penelitian tersebut menunjukkan bahwa fast charging tidak selalu menyebabkan degradasi yang lebih cepat, selama didukung oleh desain baterai, sistem manajemen baterai (Battery Management System/BMS), dan strategi pengisian yang tepat.
Para ahli menjelaskan, smartphone modern kini telah dilengkapi BMS yang secara otomatis mengurangi daya pengisian ketika kapasitas baterai mendekati penuh atau saat suhu perangkat meningkat. Karena itu, kecepatan pengisian yang tertera pada spesifikasi ponsel sebenarnya tidak digunakan secara konstan sepanjang proses pengisian.
Selain fast charging, ada sejumlah kebiasaan lain yang justru lebih berkontribusi terhadap penurunan kesehatan baterai. Di antaranya suhu tinggi saat bermain gim sambil mengisi daya, membiarkan baterai berada di level 100 persen dalam waktu lama, atau terlalu sering menguras baterai hingga benar-benar habis. Faktor-faktor ini dinilai memiliki pengaruh yang tidak kalah besar dibandingkan kecepatan pengisian itu sendiri.
Berdasarkan berbagai temuan tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa fast charging tidak serta-merta membuat baterai cepat rusak. Selama perangkat menggunakan sistem pengisian yang dirancang dengan baik dan digunakan sesuai rekomendasi pabrikan, teknologi ini tetap bisa dimanfaatkan tanpa perlu menimbulkan kekhawatiran berlebihan soal umur baterai.
Referensi:
1. Zhang, Y., dkk. (2025). A dynamic current optimization strategy for fast charging lithium-ion batteries considering thermal safety and battery aging. Case Studies in Thermal Engineering, 72, 106345.
2. Li, X., dkk. (2025). Fast charging strategies for lithium-ion batteries: Recent advances and challenges. Journal of Energy Storage, 104, 114918.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....