Satu Eksperimen, 9 Tetesan dan 99 Tahun Kesabaran
- 23 Mar 2026 20:58 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Di saat dunia bergerak serba cepat, sebuah gelas ukur di University of Queensland, Australia, justru menantang waktu. Dikenal sebagai "The Pitch Drop Experiment", penelitian ini memegang rekor dunia Guinness sebagai eksperimen laboratorium tertua yang masih berjalan secara terus-menerus.
Zat Padat yang Ternyata Cairan
Eksperimen ini dimulai pada tahun 1927 oleh Profesor Thomas Parnell. Tujuannya sederhana namun mendalam: membuktikan bahwa bahan-bahan tertentu yang tampak padat sebenarnya adalah cairan dengan viskositas (kekentalan) yang sangat tinggi.
Parnell memanaskan sampel aspal, menuangkannya ke dalam corong kaca yang tertutup, dan membiarkannya mengendap selama tiga tahun. Pada tahun 1930, bagian bawah corong dipotong, membiarkan aspal mulai "mengalir" ke bawah dengan kecepatan yang hampir tidak masuk akal.
Statistik yang Menakjubkan
Hingga hari ini, eksperimen tersebut baru menghasilkan 9 tetesan. Sebagai gambaran betapa lambatnya proses ini:
- Tetesan pertama: Jatuh pada tahun 1938 (8 tahun setelah corong dibuka).
- Tetesan terbaru (ke-9): Jatuh pada April 2014.
- Viskositas: Aspal ini diperkirakan memiliki kekentalan sekitar 230 miliar kali lipat dari air.
"Anda tidak akan pernah benar-benar bisa melihat tetesan itu jatuh. Fenomena ini terjadi begitu cepat di tengah penantian yang begitu lama," ujar salah satu pengamat eksperimen tersebut.
Momen yang Selalu Terlewat
Hal yang unik sekaligus ironis dari eksperimen ini adalah tidak ada satu orang pun yang pernah melihat tetesan itu jatuh secara langsung. Profesor Parnell meninggal dunia tanpa pernah melihat satu tetes pun jatuh. Penggantinya, Profesor John Mainstone, juga melewatkan setiap momen jatuhnya tetesan, pernah sekali karena kamera pemantau rusak tepat saat tetesan ke-8 jatuh pada tahun 2000.
Peneliti yang Memantau Eksperimen
Setelah Parnell, tugas penjagaan eksperimen tersebut kemudian dilanjutkan oleh fisikawan John Mainstone pada 1961.
Sayangnya, kedua peneliti tersebut telah meninggal dunia tanpa pernah melihat langsung tetesan pitch yang jatuh dengan mata kepala sendiri.
Mainstone menjadi penjaga selama 52 tahun. Pada 2000, ia kembali melewatkan satu tetesan karena badai petir mengganggu siaran langsung.
Ia meninggal dunia hanya beberapa bulan sebelum tetesan berikutnya jatuh pada April 2014.
Saat ini, profesor fisika Andrew White menjadi penjaga ketiga sekaligus yang terbaru dari Pitch Drop Experiment. Ia setia menanti jatuhnya tetesan ke-10 yang telah lama dinantikan. Eksperimen tersebut dipantau oleh kamera yang melakukan siaran langsung 24 jam, memungkinkan orang di seluruh dunia untuk ikut menanti tetesan ke-10 yang diperkirakan baru akan jatuh pada dekade 2030-an.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....