“Bertanya kepada sains Mengapa merasa ‘cukup’ Bikin Bahagia
- 01 Des 2025 09:46 WIB
- Bengkulu
KBRN, Bengkulu: Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang sering mengejar materi, status, dan penampilan, pertanyaan “Apa cukup itu?” menjadi lebih penting dari sebelumnya. Menyikapi hal ini, seorang saintis populer di media sosial, Riza Arief Putranto, melalui akun Instagram-nya “@rizaputranto” Sabtu (29/11/2025), mengajak publik untuk merenungkan temuan terbaru dari dunia psikologi: bahwa rasa “cukup” — atau dalam istilah akademik “contentment / self-acceptance” — bisa menjadi sumber kebahagiaan sejati, melebihi sekadar memiliki banyak hal.
Dalam “Contentment and Self-acceptance: Wellbeing Beyond Happiness” yang diterbitkan pada 2024 di Journal of Happiness Studies, para peneliti menjelaskan bahwa “contentment” merupakan emosi positif yang berbeda dengan kebahagiaan biasa — lebih tenang, lebih tenang dalam arti arousal rendah, dan terasa ketika seseorang menerima keadaan sekarang sebagai “cukup seperti ini”.
Menurut Riza, hasil riset ini sangat relevan dalam kondisi sekarang — di mana banyak orang merasa “kurang” meskipun sudah memiliki banyak. Dia menekankan:
“Cukup” bukan berarti pasif atau menyerah, melainkan penerimaan — bahwa kita dapat merasa utuh dengan apa yang kita miliki sekarang.
Kebahagiaan sejati bukan selalu berasal dari akumulasi materi, penampilan fisik, atau kondisi eksternal, tetapi dari kesejahteraan batin: penerimaan diri, rasa damai, dan penghargaan terhadap hidup sekarang.
Jika kita terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain atau mengejar standar yang tumbuh terus, kita justru menjauh dari “contentment”. Sebaliknya, dengan menghargai apa yang ada, kita bisa merasakan kebahagiaan lebih stabil.
Tantangan masayarakat saat ini yang hidup didunia media sosial adalah "mengintip" pencapaian-pencapaian orang lain yang acapkali membuat tidak bahagia. Sibuk scroll media sosial berakhir dengan tidak bahagia dan merasa diri tidak
Implikasi untuk kita semua
Pesan dari riset dan refleksi ini sangat bermakna bagi siapa saja — pelajar, pekerja, ibu rumah tangga, maupun mahasiswa seperti kamu. Beberapa implikasinya:
Mengurangi tekanan sosial untuk “selalu lebih” — lebih kaya, lebih sukses, lebih sempurna.
Mendorong kita untuk bersyukur atas apa yang sudah dimiliki dan menghargai diri sendiri, terlepas dari kekurangan.
Membantu membangun mental yang sehat dan bahagia, tidak tergantung fluktuasi materi atau kondisi eksternal.
Penelitian 2024 dari Journal of Happiness Studies ini memberikan bukti empiris bahwa “contentment” — penerimaan dan rasa cukup — adalah elemen penting dari kesejahteraan dan kebahagiaan manusia. Seperti disampaikan oleh Riza Arief Putranto di platform sosialnya, kadang kebahagiaan terbesar justru muncul dari hati yang bisa berkata “cukup.”
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....