Indonesia Tuan Rumah ISC ke-3, Ketua DPD RI Bawa Aspirasi Daerah ke Panggung Dunia

  • 02 Sep 2026 18:00 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Kamboja - Indonesia melalui DPD RI resmi ditetapkan sebagai tuan rumah Inter-Parliamentary Speakers’ Conference (ISC) ke-3. Keputusan tersebut diambil secara aklamasi dalam pertemuan para pimpinan parlemen yang hadir pada ISC ke-2 di Phnom Penh, Kamboja.

"Alhamdulillah kita dipercaya jadi tuan rumah tahun depan " ujar Ketua DPD RI Sultan B Najamudin kepada media usai acara.

Menurutnya Hasil penetapan itu kemudian dicatat dalam Phnom Penh Declaration dan diumumkan secara resmi di hadapan seluruh peserta konferensi yang merupakan pimpinan parlemen dari 40 negara.

Kehadiran Ketua DPD RI Sultan B Najamudin dalam forum tersebut tidak hanya sebagai peserta konferensi, tetapi turut mengantarkan Indonesia memperoleh kepercayaan untuk menjadi ruang pertemuan para pimpinan parlemen dunia pada penyelenggaraan ISC berikutnya. Penetapan Indonesia sebagai tuan rumah ISC ke-3 sendiri, terlebih dahulu dibahas dalam pertemuan para pimpinan parlemen negara peserta. Setelah seluruh peserta menyepakati Indonesia secara aklamasi, keputusan tersebut diumumkan secara resmi oleh Presiden Senat Kamboja sekaligus mantan Perdana Menteri Kamboja Hun Sen dalam forum ISC ke-2.

"Bagi lembaga DPD RI, penunjukkan Indonesia sebagai tuan rumah ISC ke-3, merupakan bentuk kepercayaan dari parlemen-parlemen dunia dan juga capaian penting dalam diplomasi parlemen Indonesia. Melalui ISC, menjadi bukti pengakuan Parlemen dunia atas peran dan eksistensi lembaga DPD RI sebagai institusi demokrasi," kata Sultan.

Sultan menyatakan, penunjukan tersebut merupakan kehormatan sekaligus peluang strategis bagi Indonesia untuk mengambil peran lebih besar dalam membangun dialog dan kerja sama antarparlemen dunia. Sebagai lembaga legislatif, DPD RI tentunya memiliki isu lokal, nasional dan international yang relevant untuk diselaraskan dan dikolaborasikan.

"Ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki posisi dan kepercayaan di tengah komunitas parlemen dunia untuk ikut mengambil peran dalam memperkuat perdamaian, kepatuhan terhadap hukum internasional, kesejahteraan, dan keberlanjutan. Melalui ISC, gaya politic diplomasi Indonesia yang bebas aktif berpeluang menjadi barometer diplomasi Parlemen dunia dalam mengembalikan peran multilateralisme," ungkapnya.

Foto : Foto bersama dalam pertemuan para pimpinan parlemen yang hadir pada ISC ke-2 di Phnom Penh, Kamboja.

Lebih lanjut mantan Wakil Gubernur Bengkulu menambahkan, ISC ke-3 di Indonesia nantinya tidak hanya menjadi forum diplomasi parlementer, tetapi juga ruang untuk mempertemukan berbagai perspektif negara dalam mencari titik temu terhadap persoalan global yang semakin kompleks.

Di tengah tantangan ketidakpastian global, Dunia hari ini membutuhkan lebih banyak ruang dialog dan kerja sama. Parlemen memiliki peran penting untuk memastikan aspirasi masyarakat, kepentingan perdamaian, keadilan, dan keberlanjutan dapat menjadi bagian dari agenda bersama. Indonesia siap menjadi rumah bagi dialog tersebut.

Bagi DPD RI, menurut Sultan, penunjukan sebagai tuan rumah juga memiliki makna sejarah tersendiri. Selama ini peran diplomasi Parlemen hampir selalu diwakili oleh DPR RI. Sebagai lembaga representasi kewilayahan, DPD RI ingin membawa perspektif daerah dan keberagaman sebagai bagian dari percakapan global. Sultan menilai tantangan dunia tidak hanya terjadi di tingkat nasional, tetapi juga dirasakan langsung oleh masyarakat di daerah, mulai dari perubahan iklim, ketimpangan pembangunan, hingga persoalan kesejahteraan dan keberlanjutan lingkungan.

Indonesia adalah negara yang besar, beragam, dan memiliki pengalaman panjang dalam merawat persatuan di tengah perbedaan. Pengalaman itu menjadi modal penting untuk menghadirkan forum yang membuka ruang dialog, saling memahami, dan membangun kerja sama.

"ISC merupakan forum yang mempertemukan para pimpinan parlemen berbagai negara untuk membangun dialog mengenai isu-isu strategis dunia, termasuk perdamaian, kepatuhan terhadap hukum internasional, kesejahteraan, lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan. Bagi Indonesia, penyelenggaraan ISC ke-3 membuka ruang untuk memperkuat diplomasi parlemen sekaligus membawa perspektif negara kepulauan dan kepentingan daerah ke dalam percakapan global. Terlebih lagi Indonesia memiliki modal penting untuk menjalankan peran tersebut. Sebagai negara kepulauan dengan keberagaman wilayah, masyarakat, budaya, dan potensi sumber daya lainya," tutur Sultan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....