Kemenkes dan CEPI Uji Kesiapsiagaan Hadapi Ancaman Pandemi Baru
- 04 Sep 2026 18:48 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI bersama Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI) menggelar simulasi kesiapsiagaan menghadapi ancaman pandemi baru atau “Penyakit X” di Jakarta, Kamis, 3 September 2026. Simulasi melalui Tabletop Exercise (TTX) bertajuk Misi 100 Hari tersebut menguji kecepatan respons nasional dalam mengembangkan dan memproduksi vaksin dalam waktu 100 hari sejak patogen baru teridentifikasi.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari itu melibatkan lebih dari 120 pakar dari berbagai unsur, mulai dari kementerian dan lembaga, akademisi, industri, lembaga penelitian, hingga otoritas regulasi. Para peserta menguji skenario fiktif wabah “Nipah-X”, patogen mutasi yang digambarkan dapat menular cepat dari hewan ternak kepada manusia melalui kontak langsung serta menyebar antarmanusia.
Dikutip dari lama Kemenkes pada Jumat, 4 September 2026, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan, kesiapsiagaan menghadapi pandemi harus dipandang sebagai investasi yang setara dengan pertahanan negara. Menurutnya, sejarah menunjukkan bahwa wabah penyakit mematikan dapat menimbulkan dampak yang sangat besar terhadap populasi dunia.
“Pandemi telah merenggut lebih banyak nyawa daripada perang,” ujar Budi. Ia menambahkan, pengalaman berbagai wabah menunjukkan pentingnya investasi di sektor kesehatan untuk memperkuat kemampuan negara dalam menyelamatkan nyawa masyarakat.
Misi 100 Hari merupakan target global untuk memangkas waktu pengembangan vaksin agar respons terhadap patogen baru dapat dilakukan lebih cepat. Indonesia kini berupaya memperkuat ekosistem deteksi dini, mulai dari pengembangan perangkat uji cepat portabel atau Point-of-Care Testing (POCT) di layanan primer hingga peningkatan kapasitas sekuensing genom di berbagai daerah.
Penguatan kesiapsiagaan juga diarahkan pada kemandirian produksi vaksin di dalam negeri. Pemerintah menggandeng sejumlah produsen vaksin nasional, termasuk PT Bio Farma, PT Etana Biotechnologies Indonesia, dan PT Biotis Pharmaceuticals, agar memiliki kesiapan manufaktur massal ketika terjadi ancaman pandemi.
Direktur Utama CEPI Dr. Richard Hatchett menilai Indonesia memiliki peran penting dalam memperkuat ketahanan kesehatan kawasan. Menurutnya, perkembangan riset, manufaktur, dan sistem regulasi di Indonesia menjadi modal penting untuk mendukung pencapaian target Misi 100 Hari.
“Indonesia adalah mitra strategis CEPI,” kata Hatchett. Ia menilai simulasi tersebut dapat memperkuat hubungan dan kesiapan operasional sekaligus membantu mengidentifikasi berbagai celah yang perlu diperbaiki agar respons terhadap wabah berikutnya dapat berlangsung lebih cepat.
Dari sisi regulasi, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar memastikan percepatan pengembangan vaksin darurat tetap mengutamakan keselamatan pasien. BPOM tengah mematangkan skema persetujuan bersyarat sebagai pelengkap mekanisme Persetujuan Penggunaan Darurat atau Emergency Use Authorization (EUA).
“Percepatan inovasi tetap harus berjalan seiring dengan pemenuhan standar keamanan, mutu, dan khasiat,” ujar Taruna. Menurutnya, percepatan pengembangan vaksin tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan standar yang diperlukan untuk melindungi masyarakat.
Simulasi Misi 100 Hari tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara ketiga di dunia setelah Korea Selatan dan Rwanda yang menguji secara langsung rantai respons pandemi secara menyeluruh bersama CEPI. Pengujian mencakup berbagai tahapan, mulai dari biosurveilans hingga kesiapan distribusi logistik medis sebagai bagian dari upaya memperkuat kemampuan Indonesia menghadapi pandemi di masa mendatang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....