Wamenkes: Indonesia Emas 2045 Harus Ditopang Upaya Promotif dan Preventif

  • 01 Agt 2026 15:11 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Wakil Menteri Kesehatan RI, Prof. Dante Saksono Harbuwono, menegaskan bahwa pembangunan kesehatan menuju Indonesia Emas 2045 tidak dapat lagi bergantung pada pelayanan kuratif semata. Menurutnya, penguatan upaya promotif dan preventif harus menjadi prioritas dengan didukung sumber daya manusia kesehatan masyarakat yang mampu menghasilkan kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy).

Dikutip dari laman Kementerian Kesehatan pada Sabtu, 1 Agustus 2026, pernyataan tersebut disampaikan Prof. Dante saat menjadi keynote speaker pada Dies Natalis ke-61 Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia di Depok, Rabu 29 Juli 2026 lalu. Kegiatan itu mengusung tema "FKM Bertumbuh: Sehat Utuh dan Masyarakat Tangguh" sebagai refleksi peran kesehatan masyarakat dalam menghadapi tantangan pembangunan kesehatan nasional.

Prof. Dante menjelaskan bahwa berbagai tantangan kesehatan menuju tahun 2045 sebagian besar dipengaruhi oleh faktor di luar layanan kesehatan. Ia mengatakan layanan kesehatan hanya berkontribusi sekitar 20 persen terhadap derajat kesehatan masyarakat, sedangkan sisanya ditentukan oleh gaya hidup, kondisi sosial ekonomi, dan lingkungan.

"Kalau kita petakan masalah kesehatan menuju tahun 2045, layanan kesehatan hanya berkontribusi sekitar 20 persen. Selebihnya ditentukan oleh gaya hidup, kondisi sosial ekonomi, dan lingkungan. Karena itu, penyelesaian masalah kesehatan masyarakat membutuhkan pemimpin, peneliti, dan penyusun kebijakan dari bidang kesehatan masyarakat," ujar Prof. Dante.

Lebih lanjut, Prof. Dante mengungkapkan Indonesia masih menghadapi berbagai persoalan kesehatan yang kompleks, mulai dari tingginya angka perokok usia muda, rendahnya aktivitas fisik, meningkatnya gangguan kesehatan mental pada remaja, hingga masalah kemiskinan, stunting, urbanisasi, dan perubahan iklim. Menurutnya, persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya melalui layanan pengobatan.

"Masalah-masalah tersebut tidak bisa diselesaikan hanya melalui pengobatan. Yang dibutuhkan adalah kolaborasi lintas sektor dan policy brief yang kuat sebagai dasar pengambilan keputusan," katanya.

Untuk itu, Prof. Dante menilai institusi pendidikan kesehatan masyarakat memiliki peran strategis dalam mendukung transformasi kesehatan nasional. Perguruan tinggi, menurutnya, harus mampu mencetak lulusan yang memiliki kepemimpinan, kemampuan analisis data, serta mampu menerapkan solusi nyata bagi persoalan kesehatan di masyarakat.

Prof. Dante menambahkan bahwa lulusan kesehatan masyarakat memiliki peluang besar berkiprah di tingkat internasional. Menurutnya, banyak pemimpin organisasi kesehatan dunia berasal dari latar belakang kesehatan masyarakat, membuktikan bahwa perubahan besar di sektor kesehatan lahir melalui kebijakan yang tepat.

"Banyak tokoh dunia yang berlatar belakang kesehatan masyarakat memimpin organisasi internasional seperti WHO, GAVI, UNICEF, World Bank, maupun Global Fund. Mereka menunjukkan bahwa perubahan besar dalam kesehatan masyarakat lahir dari kebijakan yang tepat," ujar Prof. Dante.

Menutup pemaparannya, Prof. Dante mengajak mahasiswa dan alumni kesehatan masyarakat menjadi agen perubahan yang mampu menjawab berbagai tantangan kesehatan bangsa. Ia menegaskan bahwa esensi kesehatan masyarakat adalah menyelamatkan jutaan jiwa melalui kebijakan yang tepat dan langkah pencegahan yang efektif.

"Bagi Alfred Sommer, public health adalah saving lives, millions at a time. Itulah esensi kesehatan masyarakat: menyelamatkan jutaan nyawa melalui kebijakan dan pencegahan," katanya mengakhiri.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....