Bengkulu di PON Aceh-Sumut: Jumlah Tak Sebanding Kiprah
- 04 Nov 2024 14:32 WIB
- Bengkulu
KBRN, BENGKULU: Kontingen Bengkulu gagal memenuhi target medali yang ditetapkan untuk PON XXI Aceh Sumatera Utara (Sumut) tahun 2024 yang telah berakhir beberapa waktu lalu. Hingga berakhirnya even akbar empat tahunan itu, Bengkulu hanya mengemas 5 medali perunggu. Tak ada medali perak, apalagi emas.
Padahal jauh-jauh hari, berdasarkan hasil pemetaan KONI Bengkulu, target yang ingin dicapai adalah 13 medali. Masing-masing 2 emas, 5 perak, dan 6 perunggu.
Sebenarnya, target itu masuk akal. Tidak muluk-muluk. Sebab, dibandingkan dengan PON-PON sebelumnya, jumlah atlet dan cabang olahraga yang lolos ke PON XXI Aceh Sumut jauh lebih banyak.
Di PON XX Papua lalu misalnya, Provinsi Bengkulu hanya mengirim 27 atlet dari 13 cabor yang lolos. Sementara di PON XXI Aceh Sumut, Bengkulu meloloskan 25 tangkai cabor dengan jumlah atlet sebanyak 98 orang.
Sayang, meski sudah berjuang maksimal dan berdarah-darah, catatan prestasi Bengkulu kali ini memang tak memenuhi harapan. Catatan prestasi kali ini justru tidak lebih baik disbanding PON Papua dimana Bengkulu finis di peringakat 30 dengan 1 emas, 4 perak, dan 7 perunggu.
Torehan medali yang dicapai Bengkulu kali ini juga diluar perkiraan. Sebab kelima medali perunggu itu disumbang cabor yang bukan unggulan. Seperti hapkido yang baru debut. Silat yang sudah puasa 20 tahun, dan cabor kurash yang baru kali ini lolos PON.
Sementara cabor-cabor yang diandalkan bisa menjaga tradisi medali, justru bopong. Misalnya binaraga, gulat, selam, dan karate. Binaraga hanya masuk 4 besar nasional, selam dan karate malah rontok di babak penyisihan.
Sementara gulat hanya sumbang perunggu jelang penutupan PON. Seperti nasib karate dan selam, gulat di PON kali ini juga memutus tradisi medali. Sebab di gelaran PON sebelumnya, gulat menjadi cabor yang selalu diunggulkan sebagai pendulang medali bagi Bengkulu.
Kegagalan memenuhi target medali tentu dipengaruhi berbagai faktor. Faktor-faktor itu bisa dilacak sejak tahapan persiapan yang memang jika dibandingkan dengan PON-PON terdahulu, tidak lebih maksimal.
Untuk menghadapai PON XX Papua, atlet-atlet Bengkulu masih difasilitasi dengan pemusatan latihan atau TC, ada try out. Sementara untuk menghadapi PON XXI Aceh Sumut, pemusatan latihan hanya dilakukan masing-masing cabor. Sementara try out atau uji tanding hanya dilakukan beberapa cabor saja.
Lemahnya persiapan itu diakui sejumlah pengurus, pelatih dan atlet cabor yang lolos ke PON Aceh Sumut. Misalnya pencak silat. Ketua Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia (IPSI) Bengkulu, Hopalara mengatakan perjuangan untuk bisa lolos ke PON tidak diraih dengan mudah. Atlet silat Bengkulu harus bertarung dengan para jawara dari provinsi lainnya dalam even kejuaraan nasional.
Menurut Hopalara, agar bisa berprestasi di PON, persiapan atlet harus maksimal. Salah satunya dengan berlatih sejak jauh-jauh hari. Sementara jika harus menunggu program Pelatda KONI, ia mengatakan sudah hampir hilang harapan.
Bersikap optimis dan berpikir besar, kata Hopalara, adalah cara IPSI untuk tidak berpangku tangan dan diam. Kendati tanpa anggaran dari KONI, Hopalara mengatakan training camp (TC) pencak silat telah berjalan. Pencak silat sendiri akhirnya menyumbang perunggu di PON Aceh Sumut.
Hal senada juga diakui cabor anggar. Sebagaimana diakui oleh Linda, pelatih cabor anggar, saat dikonfirmasi RRI, Selasa (25/6/2024) di Lapangan Futsal Tanah Patah, dimana atlet anggar memusatkan pelatihannya.
Saat itu Linda menyatakan bahwa alat yang dipakai latihan adalah pemberian dari PB IKASI saat Pra PON lalu. Linda mengatakan, cabor anggar membutuhkan alat untuk dipakai saat berlatih maupun untuk pertandingan.
"Anggar itu olahraga yang mahal. Anggaran beli senjata gak ada. Kita belum punya lopernya, elektroniknya juga belum ada. Jadi, kami berlatih dengan fasilitas apa adanya," kata Linda.
Kendati berlatih dalam kondisi yang tidak ideal, Linda mengaku tetap mendorong atlet anggar terus berlatih dengan maksimal agar bisa memberikan penampilan terbaiknya di PON nanti. "Kami gunakan saja apa yang ada sekarang. Berlatih dengan maksimal karena kami ingin memberikan yang terbaik bagi Bengkulu," ujar Linda.
Faktor yang mempengaruhi lemahnya tahapan persiapan tersebut adalah ketersediaan anggaran sehingga program yang sebenarnya sudah disusun Binpres KONI tak berjalan sesuai rencana.
Ketua Harian KONI Bengkulu Dadang Mishal mengatakan bahwa anggaran yang dikucurkan ke KONI sebesar Rp 5 milyar. Namun alokasinya tidak semata-mata buat kepentingan persiapan PON.
Dana ini sudah dialokasikan untuk anggaran rutin KONI dan untuk pelaksanaan program persiapan PON. Semula diproyeksikan untuk Pelatda hingga kebutuhan suplemen dan uang saku atlet.
"Memang kalau rasionalisasinya, dana 5 milyar itu masih kurang. Karena kita kan akan mengirim 68 atlet dari 25 cabor. Kita masih mengupayakan tambahan dana kira-kira Rp 2 milyar lagi untuk persiapan keberangkatan ke PON Aceh Sumut itu," kata Dadang kala itu (29/7/2024).
Sekretaris KONI Bengkulu, Densi Purna Irawan, menegaskan, tak mungkin program berjalan tanpa anggaran. Ia mengakui ada tahapan yang sudah disusun Binpres. Namun tak bisa direalisasikan karena ketiadaa dana.
Densi mengakui capaian medali Bengkulu di PON Aceh Sumut memang tak sesuai dengan ekspektasi dan di luar target yang ditetapkan. Namun, ia menegaskan, para atlet dan pelatih telah berjuang maksimal demi mengharumkan nama Bengkulu.
"Pada dasarnya kita targetkan ada perak dan ada emas. Tapi kita menyadari, mungkin untuk saat ini, itu kemampuan kita. Kita sudah melihat perjuangan atlet dan perjuangan pelatih yang sudah berdarah-darah untuk mengharumkan nama Provinsi Bengkulu," katanya.
Densi mengatakan, dengan hasil yang dicapai tersebut patut menjadi catatan untuk dievaluasi oleh semua pihak demi perbaikan di masa yang akan datang. "Tapi dengan itu kita menyadari bahwa mungkin masih banyak kekurangan yang harus kita perbaiki dalam hal proses pembinaan atlet yang ada di Provinsi Bengkulu," ujarnya.