Perempuan Petani Kopi Membangun Desa Tangguh Iklim

  • 30 Jun 2024 15:56 WIB
  •  Bengkulu

KBRN, BENGKULU: Kebijakan pembangunan berketahanan iklim merupakan implementasi dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, Sendai Framework, dan pemenuhan target Paris Agreement. Pembangunan Berketahanan Iklim secara paralel juga akan mendukung tercapainya target-target yang telah ditetapkan dalam TPB/SDGs, khususnya Tujuan 13: Penanganan Perubahan Iklim yang diharapkan dapat tercapai secara komprehensif di 2030.

Komitmen Indonesia untuk menangani isu perubahan iklim telah tertuang di dalam dokumen Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia yang mencanangkan target penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 29 persen dengan upaya sendiri, dan sampai dengan 41 persen dengan dukungan internasional dari skenario Business as Usual (BAU) pada tahun 2030.

Indonesia juga telah menyiapkan strategi jangka panjang long-term strategies (LTS) hingga tahun 2070 berupa arah kebijakan dan pembangunan yang rendah karbon dan berketahanan iklim. Penanganan Perubahan iklim adalah tindakan antisipasi yang terencana ataupun spontan untuk mengurangi nilai potensi kerugian akibat ancaman bahaya, kerentanan, dampak, dan risiko perubahan iklim terhadap kehidupan masyarakat di wilayah terdampak perubahan iklim. 

Dalam pelaksanaan ada 4 (empat) sektor prioritas, pendekatan infrastruktur, teknologi, peningkatan kapasitas, maupun tata kelola dan pendanaan dipertimbangkan, dengan memperhatikan aspek inklusivitas (kesetaraan gender, penyandang disabilitas, anak-anak, lansia, dan kelompok rentan lainnya), dan memperhatikan kelestarian ekosistem.

Di Bengkulu, tepatnya di Kabupaten Kepahiang, sudah empat tahun terakhir, perempuan petani kopi di Desa Batu Ampar dan Pungguk Meranti, sukses memperkenalkan dan memasarkan Kopi Semang. Tak hanya di Provinsi Bengkulu, tetapi juga ke berbagai daerah di Indonesia.

Sebutan Kopi Semang sendiri diambil dari tradisi menyemang kopi, yakni memungut biji kopi yang kulit berwarna merahnya sudah habis dimakan oleh hewan, seperti tupai, monyet, atau burung, dan telah terfermentasi secara alami di lantai kebun kopi, yang lazimnya dilakukan oleh kaum perempuan.

"Ini adalah tradisi turun temurun yang kami teruskan. Mulanya hanya sekedar untuk membantu ekonomi keluarga," cerita Supartina Paksi, Ketua Koppi Sakti (Koalisi Perempuan Petani Kopi Desa Kopi Tangguh Iklim) Kepahiang.

Kini, orientasi itu berkembang maju. Supartina mengatakan, berkat pendampingan dan edukasi yang diberikan oleh Perkumpulan LiVe, Kopi Semang ternyata punya nilai dengan harga jual yang lebih mahal.

Ketua Perkumpulan LiVE, Dedek Hendry, memaparkan selain selaras dengan upaya pelestarian lingkungan hidup dan keanekaragaman hayati serta pelestarian kearifan lokal dan tradisi, perempuan petani di Kepahiang, khususnya Desa Batu Ampar dan Desa Pungguk Meranti, juga menilai inisiatif merintis usaha Kopi Semang tersebut juga selaras dengan upaya pemberdayaan perempuan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Dedek mengatakan, dengan pendekatan pemberdayaan, LiVe kemudian mendorong kaum perempuan petani kopi di Desa Batu Ampar dan Pungguk Meranti untuk membangun membangun Desa Kopi Tangguh Iklim. Caranya adalah dengan merevitalisasi kearifan lokal dalam pengelolaan kebun kopi yang selaras dengan aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

Seperti menerapkan pola polikultur dengan menanam pepohonan penghasil buah seperti nangka, alpukat, durian, jengkol, petai, kabau, pala atau lainnya, sayur-mayur dan rempah-rempah, membuat lubang angin, membuat penampungan air hujan, tidak membakar rerumputan, dedaunan dan rerantingan pohon kopi, dedaunan dan rerantingan pohon lainnya, memanfaatkan rerumputan, dedaunan dan rerantingan pohon kopi pohon lainnya menjadi mulsa organik, dan tidak menggunakan pupuk dan pestisida Kimia.

Menurut Dedek, untuk memperkuat inisiatif tersebut, perempuan di Desa Batu Ampar dan Desa Pungguk Meranti telah menyusun dan mengajukan Rancangan Peraturan Desa tentang Desa Kopi Tangguh Iklim kepada pemerintah desa setempat untuk disahkan menjadi Peraturan Desa.

Harus diakui, insiatif perempuan petani kopi di Desa Batu Ampar dan Pungguk Meranti merintis usaha kopi semang tersebut merupakan terobosan baru. Dengan memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan kopi umumnya, bukan tidak mungkin kopi semang bisa menjadi salah satu unggulan daerah.

Rekomendasi Berita