Berawal dari Hobi Burung, Ternak Jangkrik Jadi Peluang Usaha

  • 07 Sep 2026 08:14 WIB
  •  Bengkulu

‎RRI.CO.ID, Bengkulu — Berawal dari hobi memelihara dan menangkar burung, Samsul bersama istrinya Nurli mengembangkan usaha budidaya jangkrik bernama Jangkrik Arjuna di Jalan Kuala Lempuing Nomor 58, Kelurahan Lempuing, Kecamatan Ratu Agung, Kota Bengkulu. Usaha yang awalnya hanya dijalankan dengan sekitar tiga boks tersebut kini berkembang menjadi 22 boks ternak.

‎Ide beternak jangkrik muncul dari kebutuhan pakan burung murai yang dipelihara Samsul. Daripada terus membeli jangkrik yang saat itu harganya sekitar Rp50 ribu per kilogram, mereka kemudian memilih untuk mencoba beternak sendiri karena berawal dari hobi memelihara burung, “dia selalu beli jangkrik, jadi dia berpikir gimana kalau kita ternak sendiri,” ujar Nurli, 6 September 2026

‎Jangkrik yang dibudidayakan merupakan jenis jangkrik alam karena dinilai lebih mudah dalam pemeliharaannya. Sementara jangkrik madu memiliki perbedaan warna dan membutuhkan lebih banyak pakan sehingga jenis alam dipilih karena “lebih gampang, lebih mudah,” jelasnya.

‎Dalam proses pemeliharaan, karpet telur digunakan sebagai media tempat jangkrik berkembang. Jangkrik diberikan pakan berupa pur ayam, sedangkan jangkrik yang baru menetas memanfaatkan batang pisang atau gedebog sebagai sumber air dan pakan hingga memasuki masa pertumbuhan.

‎Jangkrik biasanya mulai dipanen ketika berumur sekitar 25 hingga 30 hari setelah menetas, tergantung kondisi pertumbuhan dan pemeliharaan. Dalam satu kali panen, satu boks yang seharusnya menghasilkan sekitar 7 hingga 8 kilogram terkadang hanya mendapatkan 3 hingga 4 kilogram akibat berbagai kendala selama proses ternak.

‎Setelah siap panen, jangkrik dipasarkan melalui sejumlah depo dan pelanggan di sekitar Kota Bengkulu. Penjualan juga dapat menjangkau luar daerah melalui jaringan teman atau peternak yang membutuhkan jangkrik sebagai pakan, dengan harga sekitar Rp55 ribu per kilogram.

‎Budidaya jangkrik memiliki sejumlah risiko, mulai dari jangkrik yang mati, telur yang tidak menetas maksimal, hingga dimangsa cicak dan kadal apabila boks tidak tertutup dengan baik. Kondisi gagal panen juga dapat menambah beban biaya karena kebutuhan pakan, telur, karpet telur dan perlengkapan lainnya tetap harus dikeluarkan.

‎Untuk menekan risiko kerugian, jumlah telur yang diternakkan disesuaikan dengan kemampuan modal yang tersedia. Meski menghadapi berbagai kendala, usaha Jangkrik Arjuna tetap dipertahankan karena masih memiliki permintaan sebagai pakan burung maupun ikan dan kini menjadi salah satu sumber penghasilan keluarga.(bnga)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....