Mengukur Kualitas Tidur, Bukan Sekadar Menghitung Lama Terlelap

  • 05 Agt 2026 09:02 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Kualitas tidur tidak hanya ditentukan oleh berapa lama seseorang tidur, tetapi juga oleh seberapa nyenyak dan berkualitas proses istirahat tersebut. Tidur yang berkualitas dapat membuat tubuh terasa lebih segar saat bangun, meningkatkan konsentrasi, serta membantu menjaga kondisi fisik dan mental sepanjang hari.

Salah satu cara sederhana mengukur kualitas tidur adalah dengan memperhatikan durasi tidur setiap malam. Orang dewasa umumnya membutuhkan sekitar 7–9 jam tidur per malam, namun kebutuhan tersebut dapat berbeda berdasarkan usia, kondisi tubuh, serta aktivitas sehari-hari.

Selain durasi, frekuensi terbangun pada malam hari juga dapat menjadi indikator kualitas tidur. Jika seseorang sering terbangun, sulit kembali tidur, atau mengalami tidur yang terputus-putus, kondisi tersebut dapat menunjukkan bahwa tidur yang diperoleh belum optimal meskipun total waktunya cukup.

Waktu yang dibutuhkan untuk mulai tertidur atau sleep latency juga perlu diperhatikan dalam menilai kualitas tidur. Seseorang yang membutuhkan waktu sangat lama untuk tertidur secara terus-menerus dapat mengalami gangguan pola tidur, terutama jika kondisi tersebut disertai rasa lelah pada siang hari.

Penilaian kualitas tidur juga dapat dilakukan menggunakan kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) yang dikembangkan oleh Buysse, Reynolds, Monk, Berman, dan Kupfer pada 1989 melalui penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Psychiatry Research. Instrumen tersebut menilai beberapa komponen, termasuk kualitas tidur subjektif, durasi tidur, efisiensi tidur, gangguan tidur, penggunaan obat tidur, serta gangguan aktivitas pada siang hari.

Selain kuesioner, perkembangan teknologi memungkinkan seseorang memantau pola tidurnya menggunakan smartwatch atau perangkat pelacak aktivitas. Perangkat tersebut dapat memberikan perkiraan mengenai durasi tidur, waktu terjaga, serta pola tidur, meskipun hasilnya sebaiknya tidak dianggap sebagai diagnosis medis karena tingkat akurasinya dapat berbeda dibandingkan pemeriksaan tidur secara klinis.

Dengan demikian, mengukur kualitas tidur sebaiknya dilakukan dengan melihat beberapa indikator secara bersamaan, bukan hanya jumlah jam tidur. Jika seseorang mengalami kesulitan tidur, sering terbangun, mendengkur keras, atau tetap merasa sangat lelah setelah tidur yang cukup, konsultasi dengan tenaga kesehatan dapat menjadi langkah yang tepat untuk mengetahui penyebab dan mendapatkan penanganan yang sesuai.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....