Mengulas SepuluhJenis Burung Kicau Primadona Arena Lomba di Indonesia

  • 20 Jun 2026 14:25 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Tren hobi burung berkicau atau kicau mania di Indonesia terus menunjukkan eksistensinya dari tahun ke tahun. Bukan sekadar hobi pengisi waktu luang, dunia kicau mania telah menjelma menjadi industri kreatif yang menggerakkan roda ekonomi, mulai dari peternak (breeder), pengrajin sangkar, hingga event organizer lomba burung berkicau tingkat nasional.

Di arena perlombaan (gantangan), penilaian tidak hanya didasarkan pada keindahan fisik, melainkan pada variasi lagu, volume suara, durasi kerja (stamina), dan gaya bertarung (showmanship). Berikut adalah 10 jenis burung kicau yang kerap mendominasi bangku perlombaan di Indonesia beserta karakteristik detailnya:

1. Murai Batu (Copsychus malabaricus)

Murai Batu kerap dijuluki sebagai "Raja Diraja" di setiap gelaran lomba. Burung ini sangat diminati karena memiliki kombinasi sempurna antara suara kicauan yang lantang, kemampuan meniru suara burung lain yang sangat baik (sifat mimitri), serta gaya bertarung yang elegan dengan memainkan ekor panjangnya (ngeplay).

  • Kelebihan Lomba: Mental petarung (petarung murni) yang tinggi, volume tembakan melengking, dan variasi lagu yang kaya.
  • Sumber Kutipan: Menurut majalah hobi hewan nasional, Agrobur, Kelas Murai Batu selalu menjadi kelas utama dengan harga tiket tertinggi di setiap event besar seperti Piala Presiden maupun Piala Raja.
2. Cucak Hijau (Chloropsis sonnerati)

Cucak Hijau dikenal sebagai burung semi-petarung yang mengandalkan kecerdasan dalam merekam suara masteran. Ciri khas utama saat bertarung di gantangan adalah gaya ngentrok (bulu jambul berdiri dan sayap bergetar hebat) sembari memuntahkan materi lagu.

  • Kelebihan Lomba: Karakter vokal yang tebal dan tajam, serta aksi panggung yang sangat atraktif jika kondisinya sedang top perform.
  • Sumber Kutipan: Komunitas burung Kicau Mania Indonesia (KMI) mencatat bahwa tantangan terbesar Cucak Hijau di arena lomba adalah kestabilan birahinya yang mudah berubah, namun tetap menjadi kelas paling dinanti setelah Murai Batu.
3. Kacer (Copsychus saularis)

Burung berbulu hitam-putih ini memiliki mental petarung yang sangat agresif. Saat bertarung, Kacer akan membuka ekornya lebar-lebar (gaya ngobra) dan menggetarkan sayapnya.

  • Kelebihan Lomba: Speed rapat, volume tembakan keras, dan daya tahan yang luar biasa di atas gantangan.
  • Sumber Kutipan: Berdasarkan ulasan dari portal berita hobi OmKicau, salah satu penilaian krusial pada Kacer adalah menghindari perilaku bagong atau mbagong (burung mengembangkan bulu seperti balon dan mogok bunyi), yang langsung menggugurkan penilaian juri.
4. Lovebird (Agapornis)

Meski popularitasnya sempat mengalami pasang surut, Lovebird tetap memiliki tempat tersendiri di arena lomba, khususnya pada kelas ngekek panjang. Burung paruh bengkok ini dinilai berdasarkan durasi bunyi tanpa putus.

  • Kelebihan Lomba: Durasi kicauan (ngekek) yang bisa mencapai hitungan menit dengan jeda istirahat yang sangat tipis.
  • Sumber Kutipan: Riset komunitas Lovebird Indonesia (LBI) menyatakan bahwa dalam dekade terakhir, sistem penilaian Lovebird bergeser dari kecantikan warna ke arah poin durasi keaktifan bunyi menggunakan alat hitung (stopwatch/aplikasi khusus).
5. Kenari (Serinus canaria)

Burung bertubuh mungil dengan variasi warna yang indah ini dinilai berdasarkan kestabilan lagu, cengkok, volume, dan durasi kerja yang panjang (sering disebut gaya gela-gelo atau menggelengkan kepala ke kanan dan kiri).

  • Kelebihan Lomba: Suara pasang-surut yang berirama konstan (ngedur) dan nafas yang panjang.
  • Sumber Kutipan: Melansir dari PBI (Pelestari Burung Indonesia), kelas Kenari dibagi menjadi beberapa kategori berdasarkan ukuran tubuh, seperti Kenari Standar Kecil dan Standar Besar, guna menjamin keadilan dalam penilaian volume suara.
6. Pentet / Cendet (Lanius schach)

Cendet adalah burung predator berdarah murni yang memiliki kecerdasan luar biasa dalam meniru berbagai suara ekstrem, mulai dari suara jangkrik, burung gereja, hingga suara sirine ambulans.

  • Kelebihan Lomba: Karakter suara yang sangat tajam (menembak) dan posisi berdiri yang tegak seperti angka satu saat bertarung.
  • Sumber Kutipan: Praktisi kicau mania dari Mediaronggolawe menyebutkan bahwa Cendet yang berkualitas lomba wajib memiliki pembawaan lagu yang speed rapat dan tidak berpindah-pindah tempat bertengger (anteng).
7. Pleci (Zosterops)

Meskipun ukurannya sangat kecil, Pleci (Burung Kacamata) memiliki komunitas penggemar yang sangat masif (Pleman). Di arena lomba, Pleci dinilai dari kemampuannya berkicau dengan suara lantang (buka paruh) dan ngerol panjang.

  • Kelebihan Lomba: Karakter suara koloni yang khas, padat, dan kristal.
  • Sumber Kutipan: Berdasarkan data dari 220 Volt Indonesia (salah satu komunitas Pleci terbesar), perlombaan Pleci melatih ketelitian ekstra dalam perawatan harian karena ukuran burung yang kecil menuntut konsistensi pakan dan vitamin yang presisi.
8. Anis Merah (Geokichla citrina)

Anis Merah terkenal dengan keunikan gayanya saat bertarung, yaitu gaya "teler" (bernyanyi sembari mengenggelengkan kepala seperti orang mabuk hingga terkadang setengah tidak sadarkan diri).

  • Kelebihan Lomba: Gaya teler yang eksotis, variasi lagu yang bergeser halus (ngerol), dan volume suara yang merdu.
  • Sumber Kutipan: Menurut catatan sejarah Piala Raja Yogyakarta, Anis Merah merupakan salah satu kelas paling prestisius sejak era 1990-an yang memiliki nilai estetika tertinggi dalam dunia seni suara burung.
9. Cucak Jenggot / Kapas Tembak

Kedua jenis burung ini sering digolongkan dalam kategori yang mirip di arena lomba karena fungsi utamanya sebagai burung masteran sekaligus petarung. Karakter suaranya yang kasar dan bergetar (besetan) menjadi senjata utama.

  • Kelebihan Lomba: Suara tembakan yang konsisten (beset) dengan volume tembus, sangat cocok untuk menjatuhkan mental lawan.
  • Sumber Kutipan: Forum diskusi Kaskus Kicau Mania menjabarkan bahwa tren melombakan Cucak Jenggot berkembang pesat seiring tingginya kebutuhan burung masteran berkualitas untuk Murai Batu.
10. Kolibri Ninja / Konin (Leptocoma sperata)

Masuk dalam kategori burung pemakan nektar (sunbird), Konin kini menjadi salah satu kelas yang sangat ramai di gantangan. Gaya bertarungnya yang ngobra (membuka sayap dan ekor) dikombinasikan dengan suara crecetan tajam menjadikannya sangat memikat.

  • Kelebihan Lomba: Kecepatan lagu (speed) yang sangat rapat dan penampilan fisik metalik yang indah saat terkena sinar matahari.
  • Sumber Kutipan: Komunitas KCCI (Komunitas Kolibri Ninja Indonesia) menegaskan bahwa naiknya kelas Konin ke ranah lomba nasional membuktikan pergeseran paradigma, di mana burung kecil pelindung alam pun bisa dilestarikan dan dilombakan secara legal melalui penangkaran.

Perkembangan lomba burung berkicau saat ini semakin mengarah pada aspek konservasi. Organisasi seperti PBI (Pelestari Burung Indonesia) kini memperketat aturan dengan mewajibkan beberapa kelas utama (seperti Murai Batu) merupakan hasil penangkaran yang ditandai dengan ring (cincin kaki) resmi, guna mencegah perburuan liar di alam.

Sumber Referensi:

  1. OmKicau.com (Portal Informasi Kicau Mania)
  2. Statuta Regulasi Pelestari Burung Indonesia (PBI)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....