Ulasan Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk
- 13 Sep 2024 14:45 WIB
- Bengkulu
KBRN, Bengkulu : Film Tenggelamnya kapal Van Der Wijk diadaptasi dari sebuah novel karya ulama dan sastrawan hebat yang pernah dimiliki oleh Indonesia yakni Buya Hamka. Film ini mengisahkan tentang kisah cinta Zainuddin dan Hayati yang tidak bisa bersatu dikarenakan persoalan adat istiadat di Minangkabau dan perbedaan kasta.
Nasib malang sudah dirasakan zainuddin sejak kecil, memiliki darah campuran Minang dari ayahnya sedangkan ibunya bersuku Makassar. Pada masa itu memiliki darah campuran sangat tidak menguntungkan. Di Makassar ia dianggap sebagai keturunan Minangkabau. Setelah ayah ibunya meninggal dunia dan Zainuddin menjadi yatim piatu. Kemudian Zainuddin pergi ke kampung halaman ayahnya di Sumatra Barat. Malangnya, kehadirannya tidak di terima oleh masyarakat Minangkabau karena ia memiliki darah campuran. Sungguh berat perjalanan hidup Zainuddin di masa itu.
Dengan berat hati, Zainuddin pergi ke suatu daerah bernama Batipuh (Kota Padang Panjang). Disanalah ia bertemu dengan seorang gadis bernama Hayati. Hayati dikenal dengan parasnya yang cantik dan berbudi baik.
Pertemuan tidak di sengaja beberapa kali terjadi, dari sana mulai muncul benih-benih cinta antara keduanya. Sayangnya hubungan percintaan mereka tidak di restui oleh keluarga Hayati. Pedih hati Zainuddin tidak hanya sampai di situ, Hayati bahkan dijodohkan dan menikah dengan Lelaki bernama Aziz yang berasal dari keluarga kaya raya dan masih sesuku dengan Hayati.
Digambarkan dengan sangat pilu bagaimana sedih dan hancurnya perasaan Zainuddin ketika ditinggal menikah oleh Hayati. Hampir berbulan-bulan Zainuddin mengurung diri di kamar, tidak mau makan dan hanya meratapi nasibnya. Sampai di suatu momen Muluk, sahabat Zainuddin putus asa melihat kondisi Zainuddin. Didatangkan Hayati untuk mengobati luka perasaan Zainuddin dan membujuk dirinya untuk makan, awalnya Zainuddin seperti bermimpi bisa berjumpa dengan kekasih hatinya Hayati. Namun setelah melihat cincin melingkar di jemari Hayati, Zainuddin sontak mengusir Hayati. "Kau bukanlah kekasih hatiku, pergi sana" ujarnya berang.
Zainuddin dengan hati yang kecewa kemudian memutuskan untuk merantau ke Pulau Jawa tepatnya di Surabaya bersama Muluk sahabatnya. Kepiawaian Zainuddin menulis cerita dalam novel menghantarkan Zainuddin pada kesuksesan.
Hayati suka sekali membaca novel karangan penulis asal Sumatra Barat, namun ia tidak menyangka penulisnya merupakan orang yang sangat ia cintai. Singkat cerita Zinuddin dan Hayati dipertemukan kembali namun dalam kondisi yang berbeda. Kondisi rumah tangga Hayati dan Aziz berantakan, belakangan diketahui Aziz bangkrut karena suka mabuk-mabukan dan berjudi. Aziz menyadari dirinya sudah diambang kebangkrutan, ia menyerahkan Hayati kepada Zainuddin. Aziz pun memutuskan mengakhiri hidupnya di sebuah hotel.
Mendengar kabar kematian suaminya, hati Hayati sangat sedih. Ia berusaha meminta maaf kepada Zainuddin atas apa yang pernah terjadi pada kisah percintaan mereka dan mengungkapkan bahwa selamanya perasaannya terhadap Zainuddin tidak pernah berubah, akan tetapi Zainuddin tidak bisa menerima Hayati kembali dikarenakan rasa sakit hati yang pernah dideritanya.
Dipulangkanlah Hayati ke kampung halamannya di Batipuh menggunakan kapal mewah Belanda yang bernama kapal Van Der Wijk. Dalam perjalanannya menuju Batipuh (Minangkabau), kapal tersebut tenggelam dan menewaskan Hayati. Hayati sempat menitipkan sepucuk surat untuk Zainuddin melalui Muluk sahabatnya. Sontak Zainuddin merasa sangat bersalah menyuruh Hayati pergi dari kehidupannya. Mendengar kabar duka tersebut Zainuddin sangat menyesali keputusan bodoh tersebut sepanjang hidupnya.
Hayati dikuburkan dengan sangat layak di dekat rumahnya, hingga setiap hari Zainuddin dapat berziarah ke kuburan Hayati kekasih hatinya. Zainuddin menyusul Hayati setahun kemudian dikarenakan sakit-sakitan. Makam Zainuddin terletak di sebelah wanita yang sangat dicintainya yaitu Hayati.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....