Irritable Male Syndrome, Kenapa Pria Mudah Marah?
- 28 Sep 2026 22:11 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Pria yang tiba-tiba lebih mudah marah, sensitif, lelah, atau mengalami perubahan suasana hati terkadang dikaitkan dengan istilah Irritable Male Syndrome (IMS). Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika perubahan suasana hati pada pria muncul bersamaan dengan gejala seperti mudah tersinggung, gugup, lesu, dan perasaan tertekan.
Istilah IMS pertama kali banyak dibahas dalam penelitian yang menghubungkan perubahan perilaku dengan perubahan kadar testosteron. Dalam artikel yang diterbitkan pada Reproduction, Fertility and Development pada 2001, peneliti G. A. Lincoln menjelaskan IMS sebagai keadaan perilaku yang berkaitan dengan penurunan testosteron, dengan model penelitian terutama berasal dari hewan jantan yang mengalami perubahan hormon secara musiman.
| Baca juga: Empat Tempat Terlarang Menyimpan Gawai Anda |
Pada manusia, hubungan antara testosteron dan perubahan suasana hati tidak sesederhana itu. Kajian H. Sternbach yang diterbitkan dalam American Journal of Psychiatry pada 1998 menunjukkan bahwa penurunan testosteron pada pria yang menua dapat disertai berbagai keluhan, termasuk iritabilitas, gangguan tidur, kecemasan, kelelahan, dan perubahan fungsi seksual, tetapi hubungan langsung antara kadar testosteron dan gejala psikologis tersebut belum dapat dipastikan karena terdapat banyak faktor lain yang berpengaruh.
Stres juga dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kondisi hormonal dan suasana hati pria. Tinjauan Ethan McGonagle, Joshua Thomas, Ivan Marrufo, dan Mohit Khera yang diterbitkan pada 2026 membahas hubungan stres dengan testosteron dan kesehatan seksual pria, serta menjelaskan bahwa stres psikologis kronis dapat berkaitan dengan gangguan regulasi hormon dan berbagai masalah kesehatan dalam jangka panjang.
Penelitian terbaru bahkan menunjukkan bahwa penurunan testosteron akibat tekanan fisik atau psikologis tidak selalu berarti seseorang mengalami gangguan testosteron permanen. Karl E. Friedl dan koleganya dalam artikel Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism pada 2026 menjelaskan bahwa stres berkepanjangan, kekurangan tidur, dan defisit energi dapat menekan produksi testosteron melalui mekanisme pusat dan kondisi tersebut dapat bersifat reversibel ketika keseimbangan energi serta waktu pemulihan diperbaiki.
Karena itu, pria yang mengalami perubahan emosi sebaiknya tidak langsung menyimpulkan bahwa penyebabnya adalah kadar testosteron yang rendah. Kurang tidur, tekanan pekerjaan, pola makan yang buruk, kurang aktivitas fisik, masalah hubungan, konsumsi alkohol, hingga kondisi kesehatan tertentu juga dapat memengaruhi suasana hati dan energi, sehingga penyebabnya perlu dilihat secara menyeluruh.
Pria dapat mulai memperhatikan pola tidur, mengelola stres, menjaga aktivitas fisik, mengonsumsi makanan bergizi, serta menyediakan waktu untuk beristirahat dan melakukan aktivitas yang menyenangkan. Jika mudah marah, kelelahan, perubahan suasana hati, gangguan tidur, atau masalah seksual berlangsung terus-menerus dan mengganggu kehidupan sehari-hari, pemeriksaan kepada tenaga kesehatan lebih tepat dilakukan daripada melakukan terapi hormon secara mandiri, karena diagnosis kekurangan testosteron membutuhkan penilaian gejala dan pemeriksaan medis yang sesuai.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....