Sejarah Selat Solo, Kuliner Khas yang Penuh Akulturasi

  • 12 Sep 2026 14:47 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Selat Solo merupakan salah satu makanan khas Surakarta yang punya cerita menarik di balik sepiring sajiannya. Hidangan ini dikenal sebagai perpaduan cita rasa Jawa dengan pengaruh kuliner Eropa pada masa kolonial Belanda.

Menurut Kementerian Kesehatan RI, Selat Solo merupakan makanan yang mendapat pengaruh budaya Eropa dan kemudian disesuaikan dengan bahan serta selera masyarakat Surakarta. Kemenkes juga menyebut makanan ini sebagai warisan dari masa pendudukan Belanda di Kota Solo.

Sejarah Selat Solo kerap dikaitkan dengan masa pembangunan Benteng Vastenburg, yang berada di depan Keraton Surakarta. Dalam pertemuan antara pihak keraton dan Belanda, makanan kemudian menjadi bagian dari proses percampuran selera kedua budaya tersebut.

Kajian Pemerintah Kota Surakarta mencatat bahwa masyarakat Belanda saat itu lebih menyukai hidangan berbahan daging, sementara lingkungan keraton terbiasa dengan sajian sayuran. Dari perbedaan selera tersebut lahir hidangan yang menggabungkan daging, sayuran, kentang, telur, dan kuah kecap.

Pengaruh Eropa terlihat dari penggunaan bahan seperti kentang, mayones, dan saus, sedangkan karakter Jawa terasa kuat melalui kuah kecap yang manis dan gurih. Karena itu, Selat Solo juga kerap disebut sebagai bistik Jawa, meski penyajiannya berbeda dari bistik ala Barat.

Dalam kajian Politeknik Sahid Jakarta berjudul Potensi Kuliner Tradisional Khas Keraton Surakarta, Selat Solo disebut sebagai salah satu makanan khas Keraton Surakarta yang merupakan hasil akulturasi budaya. Kajian tersebut juga menjelaskan bahwa hidangan ini menggunakan semur bergaya Jawa-Belanda.

Dahulu, Selat Solo lebih banyak dinikmati kalangan bangsawan, keluarga keraton, dan masyarakat Eropa. Seiring waktu, hidangan tersebut keluar dari lingkungan elite dan berkembang menjadi makanan yang dapat dinikmati masyarakat luas.

Kini, Selat Solo menjadi salah satu ikon kuliner Surakarta yang mudah ditemukan di berbagai tempat makan. Sepiring selat bukan sekadar makanan, tetapi juga cerita tentang bagaimana pertemuan budaya dapat melahirkan cita rasa baru yang bertahan hingga sekarang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....