Dopamine Friction Reduction, Benarkah Bisa Lawan Rasa Malas?
- 12 Sep 2026 14:55 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Pernah merasa ingin mengerjakan sesuatu, tetapi begitu waktunya tiba justru memilih melakukan hal lain? Kebiasaan seperti ini sering dianggap sebagai rasa malas, padahal ada penjelasan dalam ilmu perilaku mengenai mengapa seseorang cenderung menghindari pekerjaan yang terasa membutuhkan banyak usaha.
Dalam psikologi, terdapat konsep effort discounting, yaitu kecenderungan seseorang menilai suatu pilihan menjadi kurang menarik ketika pilihan tersebut membutuhkan usaha lebih besar. Karena itu, tugas yang terasa rumit, melelahkan, atau hasilnya masih jauh dapat membuat seseorang lebih mudah memilih aktivitas yang memberikan kepuasan secara cepat.
Kondisi tersebut dapat ditemukan dalam aktivitas sehari-hari. Membuka media sosial mungkin terasa jauh lebih mudah dibandingkan mulai mengerjakan laporan, membereskan kamar, atau berolahraga, karena aktivitas tersebut tidak membutuhkan banyak langkah untuk dilakukan.
Salah satu cara yang dapat dicoba adalah mengurangi hambatan sebelum memulai pekerjaan. Misalnya, menyiapkan pakaian olahraga sejak malam, membuka dokumen yang akan dikerjakan, atau meletakkan perlengkapan kerja di tempat yang mudah dijangkau.
Pekerjaan yang besar juga dapat dipecah menjadi langkah-langkah kecil. Daripada memikirkan harus menyelesaikan seluruh laporan, seseorang bisa memulainya dengan membuka dokumen dan menulis beberapa kalimat terlebih dahulu.
Istilah Dopamine Friction Reduction sendiri bukan nama metode psikologi yang telah ditetapkan secara ilmiah. Namun, gagasan untuk membuat suatu perilaku lebih mudah dilakukan memiliki kaitan dengan penelitian mengenai usaha, motivasi, pengendalian diri, pembentukan kebiasaan, dan perilaku menunda.
Dengan demikian, mengatasi rasa malas tidak selalu harus dimulai dengan mencari motivasi besar. Mengurangi satu hambatan kecil sebelum memulai bisa membuat pekerjaan terasa lebih ringan dan membantu seseorang mengambil langkah pertama.
Sumber: Psychological Bulletin (2007); Nature Human Behaviour (2018).
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....