Trik Menumbuhkan Motivasi Berkompetisi pada Anak Laki-Laki

  • 05 Sep 2026 15:47 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Semangat berkompetisi dapat membantu anak laki-laki belajar menetapkan target, berusaha, menghadapi tantangan, hingga menerima kekalahan. Namun, motivasi berkompetisi yang sehat bukan sekadar keinginan untuk selalu menjadi nomor satu, melainkan dorongan untuk terus meningkatkan kemampuan diri.

Penelitian Breiger, Cumming, Smith, dan Smoll mengenai pengalaman kompetitif atlet muda menemukan bahwa kemenangan memiliki hubungan yang lebih kuat dengan sikap terhadap pengalaman olahraga pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan. Meski demikian, lingkungan yang menekankan penguasaan kemampuan atau mastery climate tetap memberikan respons positif bagi perkembangan motivasi anak.

Karena itu, salah satu cara yang dapat dilakukan orang tua adalah mengajak anak bersaing dengan pencapaiannya sendiri. Daripada mengatakan “kamu harus mengalahkan temanmu”, orang tua dapat memberikan target seperti berlari lebih cepat dari catatan sebelumnya atau memperbaiki keterampilan yang belum dikuasai.

Pendekatan tersebut sejalan dengan penelitian Bortoli dan rekan-rekan dalam Journal of Sports Sciences yang menyoroti pentingnya orientasi pada tugas dan persepsi kemampuan terhadap kondisi psikologis positif. Lingkungan yang berorientasi pada penguasaan juga menekankan usaha, proses belajar, perbaikan diri, serta melihat kesalahan sebagai bagian alami dari pembelajaran.

Cara berikutnya adalah memberikan tantangan yang sesuai dengan kemampuan anak agar ia tetap memiliki sesuatu yang ingin dicapai. Tantangan dapat dinaikkan secara bertahap sehingga anak mempunyai kesempatan merasakan kemajuan sekaligus membangun keyakinan terhadap kemampuannya sendiri.

Orang tua juga dapat memberikan pujian terhadap usaha dan proses, bukan hanya kemenangan yang berhasil diraih anak. Penelitian Marios Goudas terhadap pemain basket laki-laki muda menemukan adanya hubungan positif antara lingkungan yang berorientasi pada tugas dengan motivasi intrinsik.

Selain belajar mengejar kemenangan, anak perlu diajarkan bahwa kalah bukan sesuatu yang memalukan dan kegagalan dapat menjadi bahan evaluasi. Setelah berkompetisi, orang tua dapat mengajak anak membahas apa yang sudah dilakukan dengan baik, bagian yang perlu diperbaiki, serta strategi yang ingin dicoba berikutnya.

Orang tua sebaiknya juga menghindari terlalu sering membandingkan anak dengan teman atau saudara, karena kompetisi tidak harus dibangun melalui tekanan untuk menjadi lebih baik daripada orang lain. Kajian psikologi olahraga menunjukkan bahwa lingkungan yang menekankan usaha, penguasaan keterampilan, dan perkembangan individu lebih banyak dikaitkan dengan kesenangan, kepuasan, serta motivasi intrinsik.

Pada akhirnya, semangat berkompetisi yang sehat bukan tentang membuat anak merasa harus selalu menang dalam setiap kesempatan. Tujuannya adalah membantu anak berani menghadapi tantangan, menikmati proses meningkatkan kemampuan, menghargai lawan, serta mampu bangkit ketika hasil belum sesuai harapan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....