Sampah Organik Bisa Panaskan Bumi

  • 05 Sep 2026 06:48 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Sisa makanan, kulit buah, dan bahan organik lainnya mungkin terlihat tidak berbahaya karena dapat terurai secara alami. Namun, ketika sampah organik terkubur dan terurai tanpa oksigen di tempat pembuangan, proses tersebut dapat menghasilkan metana yang berkontribusi terhadap pemanasan bumi.

Metana merupakan gas rumah kaca yang kuat meskipun memiliki masa hidup di atmosfer lebih pendek dibandingkan karbon dioksida. United Nations Environment Programme (UNEP) menyebut efek pemanasan metana lebih dari 80 kali lebih kuat dibandingkan karbon dioksida dalam dua dekade pertama keberadaannya di atmosfer.

Dikutip dari laman United Nations Environment Programme (UNEP) pada Sabtu, 5 September 2026, sektor limbah menyumbang sekitar 20 persen emisi metana akibat aktivitas manusia. Emisi tersebut antara lain terbentuk ketika limbah organik mengalami proses penguraian, termasuk di tempat pembuangan akhir dan lokasi pembuangan terbuka.

Sampah makanan menjadi salah satu bagian yang perlu diperhatikan karena relatif cepat mengalami penguraian. Penelitian US Environmental Protection Agency (EPA) memperkirakan sampah makanan menyumbang sekitar 58 persen emisi metana yang terlepas ke atmosfer dari tempat pembuangan sampah perkotaan di Amerika Serikat.

Mengurangi makanan yang terbuang menjadi langkah yang lebih utama daripada sekadar memikirkan cara membuangnya setelah menjadi sampah. EPA menempatkan pencegahan pemborosan makanan sebagai pilihan yang lebih baik karena sumber daya yang digunakan untuk menghasilkan, mengolah, mengangkut, dan menyimpan makanan juga ikut terbuang ketika makanan tidak dikonsumsi.

Sisa bahan organik yang tidak dapat dihindari dapat dikelola melalui pengomposan daripada langsung dibuang bersama sampah lainnya. EPA menjelaskan pengomposan membantu mengurangi emisi metana dari tempat pembuangan sekaligus mengembalikan unsur hara dan karbon dari bahan organik ke tanah.

Kebiasaan sederhana di rumah karena itu dapat dimulai dengan merencanakan kebutuhan makanan, mengurangi makanan tersisa, serta memisahkan bahan organik yang dapat dikomposkan. Pengelolaan sampah organik dengan tepat tidak hanya mengurangi jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan, tetapi juga menjadi salah satu langkah untuk menekan emisi metana.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....