Bukan Sekadar Kain, Ini Makna Wastra Nusantara yang Semarakkan Kemerdekaan
- 17 Agt 2026 15:38 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Semarak peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia turut diwarnai semakin banyaknya masyarakat yang mengenakan wastra Nusantara dalam berbagai kegiatan. Di balik motif, warna, dan teknik pembuatannya, wastra bukan sekadar kain untuk berbusana, melainkan bagian dari identitas, sejarah, filosofi, dan kekayaan budaya masyarakat Indonesia.
Secara sederhana, wastra Nusantara merujuk pada kain atau tekstil tradisional yang berasal dari berbagai wilayah Indonesia dan memiliki makna serta simbol tertentu. Istilah wastra berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti kain atau pakaian, sedangkan dalam konteks kebudayaan Indonesia istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan beragam kain tradisional yang memiliki karakter khas dari daerah asalnya.
Karena Indonesia memiliki ratusan kelompok budaya dan tradisi, bentuk wastra yang berkembang juga sangat beragam, mulai dari batik, songket, ulos, sasirangan, sarung Bugis, tapis, gringsing, jumputan, hingga kain besurek dari Bengkulu. Setiap kain memiliki karakter yang berbeda, baik dari teknik pembuatan, bahan, warna maupun motif, yang sering kali berkaitan dengan lingkungan, kepercayaan, sejarah, dan kehidupan sosial masyarakat pembuatnya.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui publikasi Lebih Dekat dengan Wastra Indonesia yang diterbitkan Direktorat Pelindungan Kebudayaan pada 2020 menegaskan bahwa wastra tidak hanya berkaitan dengan tata busana atau gaya daerah. Wastra juga mengandung dimensi filosofis dan budaya, sehingga sehelai kain dapat menjadi media untuk menyampaikan nilai, simbol, serta pengetahuan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Makna tersebut juga terlihat dalam penelitian Azizah Nur Lathifah, Irwan, dan Resty Mayseptheny Hernawati yang diterbitkan dalam Texere, Vol. 21 No. 1 Tahun 2023, mengenai pengembangan kain wastra Nusantara bermotif Pa’sekong Kandaure khas Toraja. Penelitian tersebut tidak hanya melihat wastra sebagai produk tekstil, tetapi berupaya mempertahankan karakter motif tradisional melalui pengembangan teknik produksi menggunakan mesin rajut datar Stoll CMS 530 HP.
Di tengah perkembangan mode, penggunaan wastra dalam perayaan kemerdekaan juga dapat menjadi bentuk pelestarian budaya yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kajian Dharajatya Tri Paramatatwa dalam tesis Universitas Gadjah Mada tahun 2025 bahkan melihat wastra Nusantara dalam tren mode Indonesia 2020–2023 dan menemukan adanya proses pertemuan antara kearifan lokal dengan tren, estetika, serta teknik mode modern.
Karena itu, mengenakan wastra saat merayakan kemerdekaan tidak hanya soal mengikuti tren berpakaian, tetapi juga menjadi cara sederhana untuk membawa identitas budaya ke ruang publik. Ketika batik, tenun, songket, tapis, besurek, atau kain tradisional lainnya digunakan dalam kehidupan modern, masyarakat turut membantu menjaga agar warisan budaya tersebut tetap hidup, dikenal generasi muda, sekaligus memiliki nilai ekonomi bagi para perajin dan pelaku usaha yang mempertahankannya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....