Algoritma dan Dunia yang Terasa Sependapat

  • 15 Agt 2026 10:04 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Pernah merasa isi media sosial seolah dipenuhi orang yang memiliki selera, pandangan, atau ketertarikan yang sama dengan kita? Kondisi tersebut dapat dipengaruhi sistem rekomendasi yang mempersonalisasi konten berdasarkan aktivitas pengguna di ruang digital.

Algoritma dapat mempelajari berbagai sinyal dari aktivitas pengguna untuk menentukan konten yang dinilai relevan, termasuk interaksi terhadap konten yang muncul. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menjelaskan aktivitas seperti memberikan tanda suka hingga lamanya seseorang melihat sebuah konten dapat digunakan algoritma untuk mengenali preferensi pengguna.

Semakin sering seseorang berinteraksi dengan jenis konten tertentu, semakin besar kemungkinan konten serupa kembali direkomendasikan kepadanya. UNESCO menjelaskan personalisasi semacam ini dapat berkontribusi pada fenomena filter bubble, ketika algoritma menyaring informasi sehingga pengguna lebih banyak menerima konten yang sesuai dengan preferensi dan kebiasaan informasinya.

Dikutip dari laman Kementerian Komunikasi dan Digital pada Jumat, 14 Agustus 2026, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menyebut algoritma media sosial dapat membentuk persepsi karena sistem mempelajari preferensi pengguna melalui aktivitas digital. Kondisi itu membuat pengguna berpotensi terus menerima konten yang menguatkan pandangan sebelumnya, sementara perspektif berbeda menjadi lebih jarang terlihat.

Fenomena tersebut juga berkaitan dengan echo chamber, yakni situasi ketika pandangan yang serupa terus berulang dan saling menguatkan di lingkungan informasi seseorang. UNESCO menerangkan filter bubble dapat memperkuat echo chamber, meskipun keduanya merupakan konsep yang berbeda dan seseorang tetap mungkin terpapar informasi yang beragam.

Namun, algoritma bukan berarti secara otomatis membuat setiap pengguna terkurung dalam satu pandangan atau tidak pernah menemukan perspektif berbeda. UNESCO mencatat sejumlah penelitian justru menemukan penggunaan mesin pencari dan media sosial dalam beberapa keadaan berkaitan dengan konsumsi informasi yang lebih beragam, sehingga pengaruh filter bubble tidak selalu sesederhana yang dibayangkan.

Karena itu, pengguna perlu menyadari bahwa linimasa media sosial bukan gambaran utuh mengenai apa yang dipikirkan masyarakat, melainkan hasil seleksi dan personalisasi sistem serta pilihan pengguna sendiri. Membandingkan informasi dari beragam sumber dan sengaja mencari perspektif berbeda dapat membantu memperluas ruang informasi agar dunia digital tidak terasa hanya berisi orang-orang yang sependapat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....