Mengapa Skandal Bisa Tamatkan Karier Artis Korea?

  • 10 Agt 2026 06:57 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Dunia hiburan Korea Selatan dikenal memiliki standar tinggi terhadap citra publik seorang selebritas, sehingga persoalan pribadi yang menjadi skandal dapat berdampak langsung terhadap karier. Reaksi publik yang meluas di ruang digital bahkan dapat berkembang menjadi cancel culture, yakni penarikan dukungan terhadap figur yang dianggap melakukan tindakan tidak dapat diterima.

Fenomena tersebut berkaitan dengan posisi selebritas yang tidak hanya menjual kemampuan bernyanyi, berakting, atau tampil di televisi, tetapi juga membawa citra yang bernilai komersial. Penelitian mengenai pemasaran K-pop menunjukkan ketidaksesuaian citra selebritas dengan sesuatu yang mereka wakili dapat memicu kemarahan penggemar dan menurunkan keinginan konsumen membeli produk yang berkaitan dengan figur tersebut.

Dikutip dari laman Korean Citation Index pada Senin, 10 Agustus 2026, penelitian yang diterbitkan dalam Journal of the Korea Contents Association pada 2025 menganalisis masa kembali 113 selebritas yang pernah tersandung kontroversi sosial. Penelitian tersebut menunjukkan jalur kemunculan kembali artis dapat berbeda, termasuk melalui platform OTT atau televisi kabel ketika akses ke media penyiaran tertentu menjadi lebih terbatas.

Tekanan terhadap selebritas juga semakin kuat karena media sosial memungkinkan kritik, seruan boikot, dan percakapan mengenai sebuah kontroversi menyebar dengan cepat. Studi Jin Lee dan Crystal Abidin mengenai cancel culture di Korea Selatan menemukan skandal dapat melibatkan banyak pihak sekaligus dan berkembang menjadi praktik call-out, tekanan daring, hingga gelombang kebencian di internet.

Situasi tersebut ikut menjelaskan mengapa stasiun televisi, pengiklan, maupun perusahaan hiburan dapat berhati-hati menggunakan figur yang sedang menghadapi penolakan publik. Ketika citra selebritas berpotensi memengaruhi respons konsumen, mempertahankan figur kontroversial dapat membawa risiko reputasi dan komersial bagi pihak yang bekerja sama dengannya.

Namun, anggapan bahwa setiap artis Korea Selatan yang terkena skandal pasti tidak akan pernah muncul lagi di media kurang tepat. Penelitian terhadap selebritas kontroversial justru menunjukkan adanya kemungkinan kembali ke industri, sementara waktu dan jalur comeback dapat berbeda bergantung pada kasus serta media yang digunakan.

Karena itu, cancel culture di Korea Selatan lebih tepat dipahami sebagai tekanan sosial dan industri yang dapat membuat kesempatan tampil, kontrak komersial, serta penerimaan publik seorang selebritas berkurang setelah kontroversi. Dampaknya tidak selalu permanen, tetapi kuatnya hubungan antara reputasi, dukungan penggemar, media, dan kepentingan bisnis membuat citra publik menjadi bagian penting dari keberlangsungan karier di industri hiburan Korea Selatan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....