Rahasia Lidah Beradaptasi dengan Pola Makan

  • 07 Agt 2026 17:04 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Pernah merasa minuman yang dulu terasa pas kini justru terlalu manis, atau makanan yang biasa dinikmati tiba-tiba terasa hambar? Kondisi tersebut bisa terjadi karena indera pengecap memiliki kemampuan untuk beradaptasi mengikuti pola makan yang dijalani seseorang.

Dalam dunia sains, kemampuan ini dikenal sebagai diet-induced taste plasticity. Istilah tersebut menggambarkan bahwa sistem pengecap dapat berubah sebagai respons terhadap makanan yang dikonsumsi secara berulang, sehingga cara seseorang merasakan manis, asin, pahit, maupun gurih dapat ikut berubah.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa orang yang mengurangi konsumsi gula selama beberapa minggu cenderung menjadi lebih peka terhadap rasa manis alami. Hal serupa juga dapat terjadi pada konsumsi garam dan lemak, sehingga makanan dengan kadar yang lebih rendah tetap terasa nikmat setelah tubuh beradaptasi.

Perubahan ini tidak hanya terjadi pada lidah, tetapi juga melibatkan cara otak memproses sinyal rasa. Penelitian yang diterbitkan dalam PLOS Biology pada 2018 menjelaskan bahwa pola makan tertentu, terutama yang berkaitan dengan obesitas, dapat memengaruhi jumlah dan proses pembaruan sel pengecap sehingga sensitivitas terhadap rasa ikut berubah.

Kemampuan beradaptasi tersebut sebenarnya merupakan proses alami tubuh. Artinya, perubahan persepsi rasa bukan berarti lidah kehilangan fungsinya, melainkan menunjukkan bahwa sistem pengecap bersifat dinamis dan terus menyesuaikan diri dengan kebiasaan makan seseorang.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Kementerian Kesehatan RI sama-sama menganjurkan pembatasan konsumsi gula, garam, dan lemak sebagai bagian dari pola makan sehat. Ketika kebiasaan tersebut dilakukan secara konsisten, tubuh memiliki kesempatan untuk kembali mengenali cita rasa alami makanan tanpa harus bergantung pada tambahan gula, garam, atau penyedap dalam jumlah berlebihan.

Memahami bahwa lidah mampu beradaptasi dapat menjadi pengingat bahwa perubahan kebiasaan makan membutuhkan waktu dan proses. Dengan memberi kesempatan pada tubuh untuk menyesuaikan diri, menikmati makanan yang lebih sehat bukan lagi sekadar target, tetapi bisa menjadi kebiasaan baru yang terasa lebih alami.

Sumber:

  • World Health Organization (WHO). Healthy Diet dan rekomendasi konsumsi gula.
  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Gizi Seimbang.
  • Kaufman, A., Choo, E., Koh, A., & Dando, R. (2018). Inflammation arising from obesity reduces taste bud abundance and inhibits renewal. PLOS Biology, 16(3).
  • Beauchamp, G. K., & Mennella, J. A. Berbagai publikasi mengenai perkembangan dan perubahan persepsi rasa manusia.
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....