Crush Recession, ketika Gen Z Enggan Jatuh Cinta

  • 02 Agt 2026 10:59 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Fenomena “crush recession” mulai ramai dibicarakan sebagai gambaran perubahan sikap generasi muda terhadap hubungan romantis. Istilah ini merujuk pada menurunnya keinginan atau antusiasme untuk menyukai seseorang, terutama di kalangan Gen Z.

Perubahan ini bukan berarti generasi muda tidak lagi percaya pada cinta. Banyak kajian menunjukkan bahwa mereka tetap menginginkan kedekatan emosional, namun merasa proses menuju hubungan kini lebih kompleks dan melelahkan.

Salah satu faktor utama adalah tekanan ekonomi dan ketidakpastian masa depan. Kondisi tersebut membuat sebagian Gen Z lebih memprioritaskan stabilitas diri dibandingkan menjalin hubungan yang dianggap membutuhkan energi dan komitmen tambahan.

Selain itu, kehadiran media sosial turut mengubah cara seseorang merasakan ketertarikan. Rasa suka yang dulu bersifat pribadi kini berpotensi menjadi konsumsi publik, sehingga meningkatkan kekhawatiran akan penolakan atau rasa malu.

Fenomena ini juga dipengaruhi oleh aplikasi kencan yang menawarkan banyak pilihan pasangan. Alih-alih mempermudah, banyaknya opsi justru membuat seseorang sulit fokus dan mengurangi makna eksklusivitas dalam sebuah ketertarikan.

Dikutip dari laman Psychology Today pada Minggu, 2 Agustus 2026, fenomena ini juga berkaitan dengan kelelahan emosional yang dirasakan generasi muda dalam menghadapi dinamika hubungan modern. Mereka cenderung lebih berhati-hati karena ingin melindungi kondisi mental dan emosionalnya.

Pada akhirnya, crush recession menunjukkan adanya perubahan cara pandang terhadap cinta, bukan hilangnya keinginan untuk mencintai. Gen Z dinilai lebih selektif dan memilih menunda hubungan hingga merasa siap secara emosional maupun situasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....