Cara Mengukur Kualitas Tidur, Tidak Hanya Dilihat dari Lamanya Tidur

  • 12 Jul 2026 21:06 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Kualitas tidur menjadi salah satu indikator penting dalam menjaga kesehatan fisik maupun mental. Seseorang belum tentu memiliki kualitas tidur yang baik hanya karena tidur selama delapan jam, sebab kualitas tidur juga dipengaruhi oleh seberapa cepat tertidur, seberapa sering terbangun, serta apakah tubuh benar-benar mendapatkan waktu istirahat yang cukup pada setiap fase tidur.

Salah satu cara paling sederhana untuk mengukur kualitas tidur adalah dengan memperhatikan durasi tidur setiap malam. Berdasarkan rekomendasi American Academy of Sleep Medicine (AASM) dan Sleep Research Society, orang dewasa berusia 18–60 tahun dianjurkan tidur minimal tujuh jam per malam agar risiko penyakit kronis, gangguan metabolisme, dan penurunan fungsi kognitif dapat diminimalkan.

Selain durasi, waktu yang dibutuhkan untuk tertidur atau sleep latency juga menjadi indikator penting. Menurut National Sleep Foundation, waktu ideal untuk mulai tertidur berkisar antara 10 hingga 20 menit setelah berbaring di tempat tidur. Apabila seseorang membutuhkan waktu lebih dari 30 menit secara rutin atau justru tertidur kurang dari lima menit karena kelelahan ekstrem, kondisi tersebut dapat menjadi tanda adanya gangguan kualitas tidur.

Kualitas tidur juga dapat dinilai dari frekuensi terbangun di malam hari dan kondisi tubuh saat bangun pada pagi hari. Tidur yang berkualitas umumnya berlangsung tanpa banyak gangguan sehingga seseorang merasa segar, berenergi, dan mampu berkonsentrasi ketika memulai aktivitas. Sebaliknya, rasa lelah meski telah tidur cukup lama dapat mengindikasikan adanya masalah pada pola tidur atau gangguan tidur tertentu.

Perkembangan teknologi turut mempermudah masyarakat memantau kualitas tidur melalui perangkat smartwatch maupun fitness tracker. Perangkat tersebut mampu merekam berbagai parameter, seperti durasi tidur, denyut jantung, frekuensi napas, serta pembagian fase tidur menjadi light sleep, deep sleep, dan REM sleep. Meski demikian, American Academy of Sleep Medicine menegaskan bahwa hasil dari perangkat konsumen hanya bersifat estimasi dan tidak dapat menggantikan pemeriksaan medis seperti polisomnografi.

Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa kualitas tidur memiliki hubungan erat dengan kesehatan secara menyeluruh. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Sleep Health oleh Buysse dkk. (2014) menjelaskan bahwa kualitas tidur mencakup beberapa aspek, yaitu kepuasan terhadap tidur, durasi, efisiensi tidur, waktu tidur yang sesuai, serta kewaspadaan saat beraktivitas di siang hari. Artinya, penilaian kualitas tidur tidak hanya berfokus pada jumlah jam tidur semata.

Dengan memahami berbagai indikator tersebut, masyarakat dapat lebih mudah mengevaluasi kebiasaan tidurnya sehari-hari. Jika keluhan seperti sulit tidur, sering terbangun, mendengkur berat, atau rasa lelah berkepanjangan terus berlangsung selama beberapa minggu, konsultasi dengan tenaga kesehatan atau dokter spesialis tidur menjadi langkah yang disarankan agar penyebabnya dapat diketahui dan ditangani sejak dini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....