Multitasking atau Monotasking? Kenali Kelebihan dan Kekurangan Keduanya

  • 12 Jul 2026 20:06 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Di era digital, kemampuan mengerjakan banyak hal sekaligus atau multitasking sering dianggap sebagai tanda produktivitas yang tinggi. Namun, di sisi lain, semakin banyak ahli yang mendorong penerapan monotasking, yaitu menyelesaikan satu pekerjaan dalam satu waktu agar hasil kerja lebih fokus dan berkualitas.

Penelitian yang dilakukan oleh Stanford University melalui tim yang dipimpin Profesor Clifford Nass pada 2009 menemukan bahwa orang yang terbiasa melakukan multitasking berat justru memiliki kesulitan dalam menyaring informasi, mengatur perhatian, dan berpindah fokus secara efektif dibandingkan mereka yang lebih jarang melakukan multitasking. Temuan tersebut menunjukkan bahwa otak manusia sebenarnya tidak benar-benar mengerjakan banyak tugas sekaligus, melainkan berpindah dengan sangat cepat dari satu tugas ke tugas lainnya sehingga membutuhkan energi mental yang lebih besar.

Meski demikian, multitasking tetap memiliki sejumlah kelebihan apabila diterapkan pada aktivitas yang sederhana. Seseorang dapat menghemat waktu dengan menggabungkan pekerjaan yang tidak membutuhkan konsentrasi tinggi, seperti mendengarkan podcast sambil berolahraga, atau menjawab pesan singkat ketika menunggu proses unduhan berkas selesai.

Di balik kelebihannya, multitasking juga memiliki sejumlah kelemahan yang perlu diperhatikan. Terlalu sering berpindah fokus dapat meningkatkan risiko kesalahan, menurunkan kualitas pekerjaan, mempercepat munculnya rasa lelah, hingga memicu stres akibat beban kognitif yang terus meningkat sepanjang hari.

Sebaliknya, monotasking memungkinkan seseorang memberikan perhatian penuh pada satu pekerjaan hingga selesai sebelum beralih ke tugas berikutnya. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Cognitive Psychology oleh Joshua Rubinstein, David Meyer, dan Jeffrey Evans menunjukkan bahwa setiap perpindahan tugas (task switching) menimbulkan "biaya" berupa tambahan waktu dan penurunan efisiensi karena otak memerlukan proses penyesuaian setiap kali berganti aktivitas.

Keunggulan monotasking terlihat pada pekerjaan yang membutuhkan ketelitian, kreativitas, dan pengambilan keputusan, seperti menulis, menganalisis data, atau menyusun strategi. Namun, metode ini juga memiliki kekurangan karena dapat terasa kurang fleksibel ketika seseorang dihadapkan pada banyak tugas mendesak yang harus ditangani secara bersamaan, sehingga kemampuan mengatur prioritas tetap menjadi faktor yang sangat penting.

Para ahli menilai tidak ada metode yang sepenuhnya paling baik untuk semua kondisi. Multitasking lebih tepat digunakan untuk aktivitas ringan yang dapat dilakukan secara bersamaan, sedangkan monotasking lebih disarankan untuk pekerjaan yang memerlukan konsentrasi tinggi agar hasilnya lebih optimal. Dengan memahami karakteristik masing-masing, setiap orang dapat memilih cara bekerja yang paling sesuai dengan kebutuhan, jenis pekerjaan, dan tujuan yang ingin dicapai.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....