Sejarah Singkat Emoji, Simbol Kecil dengan Makna Besar
- 06 Jul 2026 07:15 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu- Di era percakapan digital, emoji telah menjadi bagian tak terpisahkan dari cara manusia berkomunikasi. Bahkan, satu kata sederhana seperti “oke” bisa terasa dingin tanpa sentuhan emoji yang memberi nuansa emosi.
Sebelum emoji hadir, orang harus mencari cara agar pesan teks tidak disalahpahami. Salah satunya adalah dengan menggunakan simbol seperti :-) atau :-( yang dikenal sebagai emoticon.
Melansir dari akun opiniid, emoticon pertama kali diperkenalkan pada tahun 1982 oleh Scott Fahlman dalam sebuah forum online. Tujuannya sederhana, yaitu membantu membedakan mana pesan serius dan mana yang hanya bercanda.
Namun, seiring waktu, emoticon mulai terasa terbatas dalam menyampaikan berbagai ekspresi manusia. Simbol dari keyboard tidak cukup untuk menggambarkan kompleksitas emosi yang ingin disampaikan dalam percakapan digital.
Lompatan besar terjadi pada tahun 1999 ketika Shigetaka Kurita menciptakan 176 ikon kecil. Inilah cikal bakal emoji modern yang kini kita gunakan setiap hari.
Kata “emoji” sendiri berasal dari bahasa Jepang, di mana “e” berarti gambar dan “moji” berarti karakter. Meski terdengar mirip, emoji tidak memiliki hubungan langsung dengan istilah emoticon.
Secara psikologis, otak manusia cenderung membaca teks digital secara datar tanpa ekspresi. Tanpa wajah dan intonasi suara, pesan sering kali disalahartikan, dan di sinilah emoji berperan penting.
Menariknya, inspirasi emoji Kurita berasal dari hal-hal sederhana di sekitarnya. Ia mengambil ide dari manga Jepang, simbol cuaca, rambu jalan, hingga karakter kanji.
Dari 176 ikon sederhana, emoji kini berkembang menjadi ribuan variasi yang digunakan di seluruh dunia. Kehadiran emoji telah mengubah cara manusia berkomunikasi, menjadikannya lebih ekspresif, hangat, dan mudah dipahami.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....