Multitasking: Produktif atau Bikin Otak Lemot?

  • 25 Apr 2026 17:37 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu – Lagi kerja sambil balas chat, denger musik, bahkan scroll media sosial? Kelihatannya produktif banget, tapi, jangan-jangan otakmu justru lagi “kewalahan”.

Multitasking memang sering dianggap sebagai cara cepat menyelesaikan banyak hal sekaligus. Di tengah rutinitas yang padat, kebiasaan ini terasa seperti solusi praktis. Semua bisa dikerjakan dalam satu waktu. Tapi, apakah benar seefektif itu?

Faktanya, otak manusia tidak dirancang untuk fokus pada banyak hal sekaligus. Saat kamu multitasking, otak dipaksa berpindah fokus dengan cepat. Akibatnya, energi terkuras lebih banyak dan tubuh jadi lebih cepat lelah. Kelihatannya sibuk, tapi belum tentu produktif.

Bahkan, keseimbangan kerja otak kanan dan kiri bisa terganggu. Normalnya, kedua sisi otak bekerja selaras saat mengerjakan satu tugas. Namun saat multitasking, fungsi tersebut terpecah. Hasilnya? Risiko melakukan kesalahan bisa meningkat hingga tiga kali lipat. Detail kecil pun jadi mudah terlewat.

Bukan cuma soal fokus, multitasking juga berdampak pada memori. Kebiasaan ini bisa melemahkan kemampuan mengingat, terutama untuk jangka panjang. Ironisnya, orang yang terbiasa multitasking justru cenderung bekerja lebih lambat saat berpindah dari satu tugas ke tugas lain.

Dampaknya juga terasa secara fisik. Multitasking dapat meningkatkan detak jantung dan hormon stres seperti kortisol. Dalam jangka panjang, hal ini bisa menurunkan produktivitas, memicu stres berlebih, bahkan meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental. Jadi, masih yakin multitasking selalu menguntungkan?

Mulai sekarang, coba ubah kebiasaanmu. Fokus pada satu pekerjaan dalam satu waktu bisa membantu otak bekerja lebih optimal. Sederhana, tapi efeknya besar. Yuk, latih fokusmu pelan-pelan, karena otak yang sehat adalah kunci produktivitas jangka panjang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....