Belanja Bijak di Era De-Influencing

  • 13 Apr 2026 13:10 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Arus konten digital selama ini mendorong orang untuk terus membeli. Namun, muncul tren baru yang justru mengajak berhenti sejenak. De-influencing hadir sebagai respons atas kejenuhan terhadap promosi berlebihan.

Tren ini mulai ramai di TikTok dan Instagram. Kreator secara terbuka membahas produk yang dianggap tidak sepadan dengan harganya. Pendekatan ini terasa lebih jujur dan dekat dengan pengalaman sehari-hari.

Berbeda dari promosi biasa, de-influencing menekankan pertimbangan sebelum membeli. Audiens diajak berpikir ulang apakah suatu barang benar-benar dibutuhkan. Hal ini membuat hubungan antara kreator dan pengikut terasa lebih autentik.

Minat terhadap tren ini meningkat karena perubahan perilaku konsumen. Banyak orang mulai sadar akan dampak konsumsi impulsif, baik secara finansial maupun lingkungan. Konten yang transparan menjadi lebih dipercaya dibanding sekadar iklan.

Selain itu, de-influencing juga mendorong kebiasaan membandingkan produk. Konsumen tidak lagi hanya mengikuti tren, tetapi mencari nilai terbaik. Ini membuka ruang diskusi yang lebih sehat tentang kualitas dan kebutuhan.

Meski begitu, tidak semua konten de-influencing sepenuhnya netral. Beberapa tetap mengarah pada promosi alternatif produk lain. Karena itu, penting bagi audiens untuk tetap kritis dalam menerima informasi.

Pada akhirnya, de-influencing bukan sekadar tren sesaat. Ini adalah bagian dari pergeseran menuju konsumsi yang lebih sadar. Menurut laporan McKinsey 2023 dan penelitian Journal of Consumer Research, transparansi dan kepercayaan kini menjadi faktor utama dalam keputusan membeli.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....