Jangan Beri Screen Time Sebelum 2 Tahun
- 27 Feb 2026 08:53 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu – Di ruang tunggu, di restoran, bahkan di rumah sendiri, bayi yang anteng menatap layar kini jadi pemandangan biasa. Video warna-warni, lagu ceria, animasi bergerak cepat—semuanya tampak menghibur. Namun di balik layar yang terlihat “aman”, tersimpan risiko yang tak bisa diabaikan pada masa emas tumbuh kembang anak.
American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan agar anak di bawah usia 2 tahun tidak mendapatkan screen time sama sekali. Alasannya jelas: paparan layar pada usia dini berkaitan dengan keterlambatan perkembangan bahasa serta potensi gangguan perkembangan lain yang efeknya bisa terasa hingga usia sekolah.
Temuan ini diperkuat oleh ilmuwan otak ternama, Patricia Kuhl. Dalam berbagai eksperimen terhadap ribuan bayi, ia menemukan bahwa bayi tidak benar-benar belajar dari mesin. Video yang terlihat edukatif sekalipun tidak mampu menandingi pembelajaran dari interaksi manusia. Otak bayi dirancang untuk merespons ekspresi wajah, kontak mata, sentuhan, dan percakapan dua arah.
Selain soal bahasa, screen time juga dapat memengaruhi fokus anak. Di dua tahun pertama kehidupan, otak berkembang sangat pesat dan sensitif terhadap lingkungan. Anak membutuhkan waktu untuk memproses suara, kata, dan pengalaman nyata. Paparan layar yang serba cepat dan terus-menerus bisa mengganggu rentang perhatian mereka.
Layar juga membuat anak terbiasa dengan hiburan instan. Padahal, rasa bosan penting agar anak belajar mengelola emosi dan mengasah imajinasi. Tanpa kesempatan untuk mengeksplorasi lingkungan secara mandiri, anak bisa lebih mudah frustrasi saat menghadapi tantangan sederhana.
Tak kalah penting, kemampuan empati turut dipertaruhkan. Anak belajar memahami emosi lewat interaksi tatap muka—membaca senyum, nada suara, hingga ekspresi sedih atau marah. Minimnya interaksi langsung dapat menghambat perkembangan keterampilan sosial tersebut.
Karena itu, orang tua perlu lebih selektif. Jika dalam kondisi tertentu layar tak terhindarkan, pilih konten berkualitas dan dampingi anak saat menonton. Namun yang jauh lebih bermakna adalah waktu sederhana: membacakan buku, mengajak berbicara, bermain cilukba, atau sekadar saling menatap dan tertawa. Di sanalah fondasi kecerdasan dan empati anak benar-benar dibangun.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....