Daster, Dari Pelindung Debu ke Tren Fesyen
- 26 Feb 2026 14:41 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu – Daster kerap diasosiasikan dengan pakaian rumahan yang sederhana. Namun di balik kesan santainya, busana ini menyimpan sejarah panjang yang melintasi benua dan zaman. Kini, daster bukan lagi sekadar “baju rumah”, melainkan bagian dari identitas dan gaya.
Istilah daster berasal dari kata duster di Amerika Serikat. Pada awal kemunculannya di abad ke-19, duster adalah jubah panjang longgar berbahan ringan yang dipakai pria untuk melindungi pakaian dari debu, terutama saat berkendara dengan kuda atau kereta terbuka. Fungsinya murni praktis: pelindung dari kotoran dan perjalanan panjang.
Memasuki abad ke-20, fungsi dan pemakainya mulai berubah. Duster berevolusi menjadi pakaian yang digemari perempuan. Desainnya semakin sederhana, dengan potongan longgar dan panjang selutut yang nyaman dipakai untuk aktivitas sehari-hari di rumah.
Di Indonesia, daster kemudian mengalami adaptasi budaya yang unik. Motif batik menjadi ciri khas yang membedakannya dari versi awal di Barat. Sentuhan lokal ini membuat daster tak hanya nyaman, tetapi juga memiliki nilai estetika dan identitas budaya.
Perkembangan desain membuat daster semakin variatif. Tak lagi monoton, kini hadir kombinasi beberapa motif dalam satu potongan. Bahkan, ada model khusus untuk ibu menyusui, hingga desain serasi untuk ibu dan anak perempuan. Fungsi praktisnya tetap dipertahankan, tetapi tampilannya kian modis.
Perubahan ini menunjukkan bahwa busana rumahan pun bisa naik kelas. Daster tidak lagi dipandang sebagai pakaian lusuh, melainkan simbol kenyamanan yang tetap stylish.
Dari pelindung debu di Amerika hingga busana rumahan bercorak batik di Indonesia, perjalanan daster mencerminkan bagaimana fesyen selalu bergerak mengikuti kebutuhan dan budaya. Sebuah pakaian sederhana, dengan cerita yang ternyata tidak sesederhana tampilannya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....