Sejarah Nyekar Menjelang Bulan Ramadhan

  • 17 Feb 2026 11:05 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Tradisi nyekar menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat Indonesia menjelang Ramadhan. Praktik ini dilakukan dengan berziarah ke makam keluarga serta memanjatkan doa bersama.

Dalam khazanah budaya Jawa, nyekar berkaitan dengan tradisi nyadran yang telah berlangsung turun-temurun. Museum Sonobudoyo menjelaskan bahwa nyadran merupakan ritual penghormatan kepada leluhur melalui doa dan ziarah kubur.

Secara etimologis, istilah nyadran disebut berasal dari kata Sanskerta “sraddha” yang berarti keyakinan atau penghormatan. Museum Sonobudoyo menyebutkan tradisi ini telah ada sejak masa Hindu-Buddha dan kemudian berakulturasi dengan ajaran Islam di Jawa.

Dalam perkembangannya, tradisi tersebut tidak bertentangan dengan ajaran Islam selama diisi dengan doa dan pengingat kematian. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang melalui publikasi ilmiahnya menerangkan bahwa nyadran menjadi media dakwah kultural dalam masyarakat Jawa.

Rangkaian kegiatan nyekar umumnya meliputi membersihkan makam, menabur bunga, serta membaca tahlil dan doa. Praktik ini dimaknai sebagai bentuk bakti kepada orang tua sekaligus refleksi spiritual sebelum memasuki Ramadhan.

Selain bernilai religius, nyekar juga memiliki dimensi sosial karena mempertemukan keluarga besar dalam satu momen kebersamaan. Tradisi ini memperkuat solidaritas serta menjaga kesinambungan nilai budaya antar generasi.

Dikutip dari laman Museum Sonobudoyo pada Selasa, 17 Februari 2026, tradisi nyadran atau nyekar merupakan hasil perpaduan budaya lokal dan Islam yang diwariskan turun-temurun. Penjelasan akademik dari UIN Malang turut menegaskan bahwa tradisi tersebut berkembang sebagai ekspresi religius sekaligus identitas budaya masyarakat Jawa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....