Wisata Rindu Hati, Permata Tersembunyi di Pelosok Bengkulu-Tengah

  • 23 Sep 2025 19:05 WIB
  •  Bengkulu

KBRN, Bengkulu Tengah — Terletak di kaki Pegunungan Bukit Barisan, Desa Rindu Hati, Kecamatan Taba Penanjung, Kabupaten Bengkulu Tengah, menyimpan pesona alam yang memukau.

Desa yang dahulu hanya dikenal sebagai wilayah pertanian ini kini mulai menapaki perannya sebagai salah satu destinasi wisata alam unggulan di Provinsi Bengkulu.

Berada jauh dari keramaian kota, Rindu Hati menawarkan suasana pedesaan yang masih alami. Hamparan sawah hijau yang membentang, udara yang sejuk, serta aliran sungai yang jernih menjadi suguhan utama bagi para pengunjung. Tak heran jika desa ini mulai dikenal sebagai “permata tersembunyi” yang menyajikan ketenangan dan keindahan yang belum banyak tersentuh modernisasi.

Keunikan Rindu Hati bukan hanya terletak pada pemandangannya, tetapi juga pada pengalaman yang ditawarkan.

Wisatawan dapat menyatu dengan alam sekaligus menikmati budaya lokal yang masih terjaga. Momen seperti musim durian, masa tanam padi, atau kegiatan panen raya kerap menjadi magnet tersendiri karena memungkinkan pengunjung merasakan langsung denyut kehidupan masyarakat desa.

Foto : KkeguTim Mijus 2025 Himas1stik Fisip Unib berkumpul di depan tenda kemah.

“Senang rasanya melihat banyak orang luar datang ke sini. Dusun kami kan paling pojok, jadi sekarang bisa lebih dikenal,” ujar Vera, salah seorang warga, saat ditemui tim mijus 2025 Himas1stik Fisip Unib.

Tak hanya pemandangan yang memikat, Rindu Hati juga menyuguhkan beberap1a titik wisata alam yang unik, seperti batu kapal, sebuah formasi batu alam yang menyerupai haluan kapal, serta sungai jernih yang mengalir tenang di antara bebatuan besar.

Menurut Mas Alimah, warga asli Rindu Hati, tempat ini memiliki daya tarik tersendiri karena tidak dibuat-buat.

“Di sini bukan sekadar buatan, tapi wisata alam yang benar-benar asli. Orang datang untuk merasakan ketenangan yang tidak bisa didapat di kota,” jelasnya.

Keberhasilan desa ini mengembangkan wisata tak lepas dari peran aktif masyarakat, tokoh lokal, dan dukungan pemerintah desa.

Wanni Kumala Sari, warga yang juga aktif dalam kegiatan pelestarian alam dan promosi wisata, menegaskan bahwa keterlibatan warga menjadi kunci utama menjaga keberlanjutan destinasi ini.

Foto : Tim Mijus 2025 Himas1stik Fisip Unib berkumpul di depan tenda kemah.

“Rindu Hati bukan hanya tempat wisata, tetapi juga bagian dari kehidupan kami. Kami berkomitmen menjaga alam agar tetap lestari. Kalau rusak, yang rugi bukan cuma wisatawan, tapi kami sendiri,” katanya.

Wisatawan yang datang ke Rindu Hati tak hanya sekadar menikmati pemandangan, tetapi juga diajak merasakan kehidupan lokal yang sederhana dan hangat.

Di akhir pekan, beberapa pengunjung memilih untuk berkemah di area glamping, mengikuti kegiatan warga, hingga menikmati api unggun dan tradisi malam minggu bersama masyarakat.

Bagi sebagian orang, pengalaman ini lebih berkesan dibandingkan liburan ke tempat yang serba modern.

Berbagai upaya terus dilakukan oleh pemerintah desa bersama warga untuk memperkuat posisi Rindu Hati sebagai destinasi unggulan. Mulai operbaikan akses jalan, serta untuk kedepannya mereka akan kembali melakukan pembangunan fasilitas wisata yang ramah lingkungan, serta promosi berbasis media sosial mulai digencarkan untuk menjangkau wisatawan dari luar daerah.

Foto : Tim Mijus 2025 Himas1stik Fisip Unib berfoto bersama.

Dengan kekayaan alam yang masih terjaga dan masyarakat yang ramah serta berkomitmen, Desa Rindu Hati meneguhkan jati dirinya sebagai oase ketenangan di tengah hiruk-pikuk modernisasi.

Desa ini bukan hanya tempat untuk berlibur, tapi juga ruang refleksi tentang bagaimana manusia, budaya, dan alam bisa hidup berdampingan dalam harmoni.

Penulis : PESERTA MIJUS 2025 HIMAS1STIK FISIP UNIB

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....