Second Lead Syndrome pada K‑Drama
- 03 Jul 2025 15:49 WIB
- Bengkulu
KBRN, BENGKULU - Second Lead Syndrome (SLS) terjadi saat penonton lebih mendukung karakter pendamping (second lead) daripada pemeran utama pria dalam cerita cintanya. Karakter ini sering digambarkan penuh kasih, setia, dan lebih hormat kepada pemeran utama wanita—berbeda dengan karakter utama yang kadang dingin atau kasar di awal—membuat penonton merasa lebih empati dan mendukungnya. Dikutip dari themindsjournal.com pada Kamis (03/7/2025).
Kedua, kekuatan SLS terletak pada konsep “underdog” dan cinta tak terbalas. Penonton menyukai perjuangan second lead yang tak mampu mengungkapkan cinta karena takut merusak persahabatan. Interaksi penuh perhatian dan kelembutan semakin memperkuat keterikatan emosional penonton.
Beberapa K‑Drama ikonik memicu SLS hebat, misalnya Boys Over Flowers (2009) dengan Yoon Ji‑hu yang sangat perhatian—meski karakter utama Gu Jun‑pyo lebih dipilih pada akhirnya—membuat penonton “patah hati” karena ketimpangan rasa ini. Contoh kontemporer seperti Start‑Up (2020) juga menampilkan Han Ji‑pyeong, yang mendapatkan dukungan massal dari “Team Han Ji‑pyeong” karena karakter matang dan penuh pengorbanan
Dalam forum diskusi seperti Reddit, banyak pengguna menyuarakan perasaan serupa. Salah satunya menyatakan: “Whenever ML is toxic I will always tend to the second lead, because I like to watch (and to live) healthy relationships.” atau tentang True Beauty: “Seo‑jun’s love for Ju‑kyung … pure and selfless … His unrequited love and quiet sacrifices made his character one of the most heartbreaking second leads.” Fenomena ini juga dikaji secara akademis. Sebuah studi tentang Start‑Up menemukan bahwa dukungan masif terhadap Han Ji‑pyeong (second lead) memperlihatkan adanya “audiens partisipatif” yang menyuarakan preferensinya di ruang publik, membentuk budaya populer baru melalui SLS
Akhirnya, SLS bukan sekadar perasaan sesaat, melainkan refleksi terhadap narasi, karakter, dan hubungan emosional dalam drama. Ketika second lead memadukan ketulusan, chemistry, dan konsistensi, hati penonton sering kali condong padanya—meskipun jalan cerita menempatkannya di akhir kisah yang menyakitkan. Fenomena ini menguatkan keterikatan dan diskusi antarpenggemar, serta menjadi bagian tak terpisahkan dari pengalaman menonton K‑Drama.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....