Menenun Harapan di Balik Jeruji Lapas Perempuan

  • 12 Agt 2025 09:26 WIB
  •  Bengkulu

KBRN, Bengkulu : Di balik tembok tinggi dan pintu besi yang kokoh Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas II B Bengkulu, menyelinap di antara dinding-dinding dingin, ada aroma harum seperti aroma roti yang baru keluar dari oven.

Setelah di lihat, jemari yang dulu mungkin pernah menggenggam kesalahan, kini luwes membentuk adonan, menghias kue, menggores canting di kain putih, atau merias wajah sahabatnya yang duduk manis di kursi. Di balik pintu besi yang tebal, sebuah babak baru tengah ditulis.

Sejak 7 Agustus 2025, Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel melalui Fuel Terminal Pulau Baai bersama pihak lapas memulai sebuah perjalanan memberi bekal keterampilan yang bisa menjadi paspor menuju kehidupan yang lebih baik. Bukan sekadar mengisi waktu hukuman, tetapi membangun jembatan ke masa depan—masa di mana mereka tak lagi disebut “warga binaan”, melainkan “perempuan mandiri”.

Tiga bidang pelatihan dipilih dengan hati-hati yakni tata boga, tata rias, dan membatik. Tahun ini, tata boga menjadi sorotan utama, mengajarkan seni menciptakan roti lembut, kue manis, hingga kudapan kekinian yang bisa memikat pembeli.

Sementara itu, pelatihan tata rias membuka peluang di industri kecantikan, dan membatik menghubungkan mereka dengan akar budaya khas Bengkulu Utara: motif Kagano.

Dalam menenun harapan ini, Pertamina tak berjalan sendiri. Para pelaku usaha ternama ikut berbagi ilmu—Syarah Bakery membimbing di dapur, Ewy Wona Make Up Artist menuntun di depan cermin, dan Batik Kagano mengajarkan filosofi di setiap goresan lilin.

UMKM binaan Pertamina, Serawai Jaya, pun hadir, membuktikan bahwa pembinaan yang tepat dapat mengubah kisah hidup siapa pun.

Foto : Peserta membatik

Di hari pembukaan, deretan kursi diisi para tokoh. Kepala Kanwil Kemenkumham Bengkulu Haposan Silalahi, Sekda Bengkulu Utara Fitriansyah, dan Fuel Terminal Manager Pulau Baai Yusman Fitrianto, Kepala Lembaga Permasyarakatan Perempuan Kelas II B Bengkulu Suci Winarsih, serta Sekretaris Daerah Kabupaten Bengkulu Utara Fitriansyah.

Terlebih kegiatan ini mencerminkan kuatnya sinergi lintas pihak dalam mendukung proses pembinaan warga binaan.

"Program ini menunjukkan bahwa pembinaan di lapas tidak hanya fokus pada pembentukan karakter, tetapi juga membekali warga binaan dengan keterampilan nyata yang bisa menjadi modal mereka untuk hidup mandiri dan berintegrasi kembali ke masyarakat." ungkap Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Wilayah Bengkulu, Haposan Silalahi.

Senada Sekretaris Daerah Kabupaten Bengkulu Utara, Fitriansyah, mengapresiasi langkah Pertamina dan Lapas Perempuan.

"Kami bangga karena batik Kagano khas Bengkulu Utara dapat menjadi bagian dari pelatihan ini. Harapan kami, keterampilan membatik yang diajarkan dapat menjadi peluang usaha bagi warga binaan sekaligus memperluas promosi batik khas daerah ke tingkat yang lebih luas." ujarnya.

Di mata Pertamina, Area Manager Communication, Relation & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, Rusminto Wahyudi menegaskan sudah menjadi komitmen Pertamina dalam pemberdayaan masyarakat.

Terlebih lagi program ini sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan, pendidikan berkualitas, pekerjaan layak, pertumbuhan ekonomi, dan pengurangan kesenjangan.

"Dengan pelatihan ini diharapkan tidak hanya memberikan keterampilan teknis, tetapi juga membangun rasa percaya diri, motivasi, dan semangat kewirausahaan bagi para peserta. Ke depan, hasil karya dari pelatihan ini diharapkan dapat dipamerkan dalam berbagai kegiatan promosi dan pemasaran, sehingga menjadi langkah awal bagi warga binaan untuk kembali berkontribusi positif di tengah masyarakat," katanya.

Bagi Sherly Anggela, salah satu peserta, momen ini seperti pintu kecil yang terbuka lebar. Sekaligus juga kesempatan untuk membuktikan bahwa masa lalu tidak harus menjadi penjara selamanya.

“Dulu saya takut memikirkan hidup setelah keluar nanti. Sekarang, saya merasa punya pegangan. Ada yang bisa saya kerjakan. Ada mimpi yang bisa saya kejar,” ucapnya sambil menatap loyang kue yang baru saja ia keluarkan.

Ketika senja turun di halaman lapas, suara tawa masih terdengar dari ruang pelatihan. Di sana, setiap adonan yang mengembang, setiap riasan yang memoles wajah, dan setiap motif batik yang tercetak adalah lambang sebuah keyakinan—bahwa dari balik jeruji, harapan tetap bisa tumbuh, dan masa depan bisa dijemput dengan tangan sendiri.

Rekomendasi Berita