Pekerja Pembuka Terpal: Bertaruh Paru Demi Rupiah
- 28 Feb 2025 13:59 WIB
- Bengkulu
KBRN, BENGKULU: Di atas aspal hitam yang pekat dibalut butiran batubara, mereka bak pasukan kecil yang siap tempur melawan terik mentari, hujaman percik hujan, dan kepulan asap bercampur debu. Tujuannya hanya satu: demi receh rupiah untuk membantu ekonomi keluarga.
Mereka itu adalah sekelompok warga yang disebut pembuka terpal. Sebutan itu disematkan karena mereka memang hanya bekerja sebagai pembuka terpal, yakni terpal penutup batubara yang diangkut armada truk berbagai type dari tambang ke Pelabuhan Pulau Baai di Kelurahan Teluk Sepang, Kecamatan Selebar, Kota Bengkulu.
Di pagi menjelang siang itu, dibawah sengat perih mentari, pekerja yang didominasi kaum perempuan yang rata-rata ibu rumah tangga itu bergegas ke pinggir jalan setelah suara truk pengangkut batubara melaju mendekat ke lokasi penampungan. Dengan cekatan pula mereka memanjat bak truk, melepas ikatan, lalu menarik terpal yang menutup.
Setelah melipat terpal dengan rapi, selembar pecahan lima ribu rupiah mereka terima. Upah ini untuk jenis armada kecil atau truk biasa. Sementara untuk jenis armada yang lebih besar, misalnya truk fuso, upahnya 10 ribu rupiah per armadanya.
Pekerjaan membuka terpal per truk itu memang tidak makan waktu lama. Hanya beberapa menit saja. Semakin banyak truk yang masuk, makin banyak pula cuan yang mereka dapat. Sebaliknya, semakin sedikit armada yang masuk, sedikit pula rupiah yang bisa dipungut.
Di sisi lain, banyak atau sedikit armada yang masuk, para pekerja pembuka terpal ini tetap berkutat dengan debu dari serpihan partikel debu batubara. Selain mengenakan helm atau pelindung kepala, sebagian di antara mereka memang memakai masker mulut. Namun sebagian lainnya malah tidak sama sekali.
Para pekerja ini menyadari sekali ada resiko serius bagi kesehatan mereka jika terus-menerus menghirup polusi debu batubara ini. Tak hanya ispa ringan, mereka juga rentan mengidap kanker paru.

Perempuan pembuka terpal di Kel Teluk Sepang tak menghiraukan kepul debu batubara demi menambah pendapatan ekonomi keluarga. [RRI/Sofia Harianja]
Seperti diakui Neisya Utari, salah seorang di antara pekerja pembuka terpal. Menurut perempuan yang sudah bekerja selama 4 tahun, sudah ada rekan-rekannya yang mengeluh sakit batuk hingga berdarah, sakit paru-paru, dan sakit pernafasan lainnya.
Menurut dia, pekerjaan membuka terpal itu mereka lakukan demi membantu ekonomi keluarga. Meski taruhannya kesehatan, namun tetap mereka lakoni. Bahkan kadang tak kenal waktu. Baik siang maupun malam.
Alil, Koordinator Lapangan para pekerja pembuka terpal, menjelaskan bahwa aktivitas para pekerja terpal dimulai sejak pagi pukul 07.00 WIB-19.00 WIB. Setiap yang mau bekerja, kata dia, harus mendaftar terlebih dulu.
Alil mengakui, para pekerja memang terganggu dengan banyaknya debu batubara itu. Apalagi para pekerja bekerja tanpa henti meski cuaca tidak bersahabat sama sekali.
Alil berharap ada perhatian pemerintah daerah kepada mereka. Bentuk perhatian yang diinginkan itu berupa bantuan helm, masker, sepatu, demi melindungi mereka saat bekerja.
Dr Mohammad Yovansyah Putera Sp.P, dokter spesialis paru, mengatakan, salah satu penyakit pada paru itu secara spesifik ditandai dengan batu berdarah. Kondisi ini, kata dia, biasanya memang dialami oleh pasien yang punya riwayat pekerjaan di tambang batubara.
Sementara Joni Haryadi, Kadis Kesehatan Provinsi Bengkulu, menjelaskan dampak paling dekat akibat terpapar partikel debu batubara ini adalah inpeksi pada saluran pernafasan. Sementara dalam waktu yang lama bisa menyebabkan kanker.
"Jika kita ada di lingkungan seperti itu, wajib memakai masker. Kalau dalam waktu yang lama, hindari lokasi yang berdebu tersebut," sarannya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....